Tampilkan postingan dengan label umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label umum. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 November 2011

menguatkan tekat untuk terus menuntut ilmu

Tanpa ilmu dan pengetahuan kita tidak akan mengetahui siapa diri kita, siapa Allah 'Azza wa Jalla, dan jalan untuk pulang kepada Allah Sang Khalik. Makin sedikit pengetahuan, makin pahit hidup ini karena tak banyak masalah yang bisa diselesaikan.
Oleh karena itu jikalau kita ingin sukses ingatlah janji Allah 'Allah 'Azza wa Jalla :
"... Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS Al Mujadilah : 11)
 
Juga sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam,
"Barang siapa yang menginginkan dunia, maka wajiblah baginya dengan ilmu. Barang siapa yang menginginkan akhirat, maka wajib baginya untuk mencari ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan dunia dan akhirat, maka wajib baginya untuk mencari ilmu."
 
Kita tahu bahwa segala sesuatu dalam hidup ini selalu berubah. Umur bertambah tua, tubuh bertambah lemah, kebutuhan bertambah banyak, hingga masalah dan potensi konflik pun bertambah. Bagaimana mungkin kita menyikapi segala sesuatu yang selalu bertambah tanpa ilmu yang bertambah pula. Mari kita terus menerus meng-up-grade diri dan memperbaiki diri. Kalau ilmu kita luas, maka akan seperti orang yang berada di puncak gunung, dia akan bisa melihat pemandangan di bawahnya lebih luas. Begitupun, orang yang luas ilmunya, ia akan lebih arif dan bijak dalam melihat kehidupan.
 
Atau seperti kapal selam di lautan yang dalam, walau dari sana sini air menekan, dia tak pernah kandas tenggelam. Begitupun, orang yang mengerti arti kehidupan dapat menyelami kehidupan ini dengan tenang, tidak panik. Sebaliknya, orang yang sedikit ilmunya seperti perahu di permukaan laut yang selalu terombang ambing ombak. Orang yang tidak berilmu tak bisa menyelami arti hidup, dalam kesenangan membabi buta, dalam kesedihan terpuruk dan putus asa.
 
Ciri-ciri orang yang kurang ilmu adalah hilangnya kearifan, misalnya menyelesaikan masalah dengan mengandalkan kekuatan otot atau amarah. Kalau semuanya berubah, tetapi ilmu kita tak berubah dan bertambah, maka seringkali yang bertambah adalah peningkatan emosi dan tensi.
 
Betapa sering kita melihat orang-orang yang terpuruk karena kurang ilmunya. Walau dia mempunyai kedudukan, tetapi jika kemampuannya tidak sesuai dengan amanahnya, maka ia akan menjadi hina justru oleh kedudukannya itu. Jika kita ingin mempunyai masa depan yang baik, maka kita harus mencintai belajar, setiap waktu harus sekuat tenaga menambah ilmu. Jadikan belajar sebagai program harian kita. Setiap hari harus mencari buku-buku untuk dibaca. Kalau melihat televisi, lihatlah program yang bisa menjadi ilmu. Kalau mempunyai uang lebih, ikutilah kursus yang bisa menambah ilmu, wawasan, dan pengalaman. Kemudian, berkumpullah dengan orang-orang yang mencintai ilmu.
 
Tekadkan dalam hati, wujudkan dengan langkah nyata dan konsisten dengan komitmen ini :
"Setiap hari saya harus mencari ilmu. Setiap hari saya harus bertambah ilmu. Setiap hari saya harus terus memahami ilmu. Saya harus meluangkan waktu untuk mencari dan menuntut ilmu. Saya harus membebaskan diri saya dari belenggu kebodohan dengan mendapatkan ilmu. Saya harus mengamalkan ilmu agar menjadi ilmu yang bermanfaat."
 
Kalau kita berilmu, dunia akan datang kepada kita. Firman Allah 'Azza wa Jalla dalam hadits Qudsi :
"Hai dunia, layani orang yang hidupnya digunakan untuk mengabdi kepada-Ku dan perbudak orang-orang yang hidupnya hanya sibuk mencari dunia."
 
Semoga uraian singkat ini dapat memotivasi sahabat-sahabat semuanya untuk senantiasa menuntut Ilmu demi kebaikan dan keutamaan hidup, baik kehidupan di dunia terlebih kehidupan di akhirat kelak nanti...Aamiin.
 
( Jika sahabat ingin share ke sahabat-sahabat lainnya, saya persilahkan, namun harap mencantumkan ke link blog  maknahidup.blogdetik.comatau ke link halaman facebook Belajar Memaknai Arti Hidup dan Kehidupan  Terima kasih - Hak cipta dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla)

bibit kebaikan

Nabi Musa ‘alaihis salam bermunajat kepada Allah, seraya berkata:
 
“Ya Allah, sungguh Engkau telah menitahkan makhluk dengan curahan nikmat dan rahmat. Tapi, kelak makhluk bernama manusia Engkau masukkan ke dalam neraka. Mengapa demikian?
 
Allah segera menurunkan jawaban kepada Musa: “Hai Musa, berdiri dan bangkitlah. Tanamlah tanaman, dan peliharalah dengan baik tanamanmu hingga tiba waktu memetik hasil. Setelah engkau memetik hasil, terus engkau apakan hasil itu?”
 
Jawab Musa: “Ya Allah, lebih dahulu aku pisahkan, mana yang baik dan mana yang kosong tak berisi. Yang baik aku simpan dan yang kosong aku buang.”
 
Allah kemudian menegaskan: “Ya Musa, sungguh yang Aku masukkan neraka adalah orang-orang yang sama sekali tidak memiliki kebaikan.”
 
Musa kembali bertanya: “Ya Allah, siapakah orang-orang yang sama sekali tidak memiliki kebaikan itu?” Jawab Allah: “Mereka adalah orang-orang yang merasa berat mengucapkan kalimah: “Laa Ilaaha Illallaah, Muhammad rasuulullaah.”
 
Demikian Imam Zahid menceritakan sebuah kisah bersumber dari ayahnya.

berikan nasehat ,jangan tunggu kesempurnaan

Bismillahirr Rahmanirr Rahim ...

“Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasihati kalian, dan bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling shalih di antara kalian.
...
Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb-nya.

Andaikata seorang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya, kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah Ta'alla, tidak ada yang mengajak untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari memaksiati-Nya.

Namun, dengan berkumpulnya ulama dan kaum mukminin, sebagian memperingatkan kepada sebagian yang lain, niscaya hati-hati orang-orang yang bertakwa akan hidup dan mendapat peringatan dari kelalaian serta aman dari lupa dan kekhilafan.

Maka, terus-meneruslah berada pada majelis-majelis dzikir (majelis ilmu), semoga Allah Ta'alla mengampuni kalian.

Bisa jadi, ada satu kata yang terdengar dan kata itu merendahkan diri kita, namun sangat bermanfaat bagi kita. Bertaqwalah kalian semua kepada Allah Ta'alla dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Imam Hasan Al-Basri).

(Selamat menjemput sholat Dzuhur untuk daerah Bandung dan sekitarnya)

Salam  Ukhuwah Karena-NYA

antara Allah ta'llah dan sang kekasih

Bismillahirr Rahmanirr Rahim ...

Seorang gadis desa sedang pergi untuk menemui kekasihnya. 
... Ia melewati seorang lelaki yang kelihatannya sholeh yang sedang melakukan shalat.
Karena tidak tahu, ia berjalan di depan seorang lelaki itu, suatu hal yang dilarang oleh agama.

Lelaki itu sangat marah, hingga ketika gadis itu kembali lewat di dekatnya, ia memarahinya.

Ia berkata. “Alangkah berdosanya, hai gadis muda, berjalan di depanku ketika aku sedang shalat.“

Gadis itu berkata, “Apa artinya shalat?“

Dijawab, “Aku sedang memikirkan Allah Ta’alla, Tuhan langit dan bumi.“

Gadis itu berkata, “Maafkan aku, aku belum tahu Allah dan shalat bagi-Nya, tetapi tadi aku sedang berjalan menuju kekasihku dan memikirkan kekasihku, hingga aku tak melihatmu sedang shalat. Aku heran bagaimana anda yang sedang memikirkan Allah dapat melihatku?“

Perkataan gadis itu sangat berkesan pada Lelaki hingga ia berkata, “Sejak saat ini, hai gadis, engkau adalah guruku. Akulah yang harus belajar darimu.”

[dikutip dari milis teman dengan Topik: Cinta Ilahi]

----------------------
Seorang ahli ibadah bernama Isam Bin Yusuf, sangat warak dan khusyuk
solatnya. Namun, dia selalu khuatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk
dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya,
demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasainya kurang khusyuk.

Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Assam
dan bertanya, "Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan solat?"

Hatim berkata, "Apabila masuk waktu solat, aku pergi ke masjid, aku kemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat.

Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku rasakan:
1.aku sedang berhadapan dengan Allah,
2.Syurga di sebelah kananku,
3.Neraka di sebelah kiriku,
4.Malaikat Maut berada di belakangku, dan
5.aku bayangkan pula aku seolah-olah berdiri di atas titian 'Siratal mustaqim' dan
menganggap bahawa solatku kali ini adalah solat terakhir bagiku,
kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik."

"Setiap bacaan dan doa didalam solat, aku faham maknanya kemudian aku
rukuk dan sujud dengan tawadhuk, aku bertasyahud dengan penuh
pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersolat
selama 30 tahun."

Apabila Isam mendengar, menangislah dia krn membayangkan ibadahnya
yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.

----------------------

ASTAGFIRULLAH ...
Bagaimanakah dengan sholat kita????
ASTAGFIRULLAH ...

Semoga Bermanfaat ...
Salam  Ukhuwah Karena-NYA

aku tak khawatir hanya karena hinamu

Bismillah ....

Aku tak khawatir hanya karena hinaanmu
...
Kau bilang "aku SOK SUCI"

Ku jawab "Amin,semoga Alloh Azza Wa Jalla men suci kan diriku dari syirik dan kawan-kawannya"

Kau bilang "aku SOK ALIM"

Ku jawab "Alhamdulillah semoga Alloh Azza Wa Jalla memperkenankan aku menjadi orang yang taat"

Kau bilang "aku SOK BERSIH"

Ku jawab "Subhanalloh semoga Alloh Azza Wa Jalla..membersihkan diriku dari dosa-dosa yang entah berapa besarnya"

Kau bilang "aku SOK MERASA BENAR"

Ku jawab "Maha Benar Alloh atas segala firmanNYA dan semoga Alloh Azza Wa Jalla...t'lah menunjukku tuk berjalan diatas agamaNYA yang benar"

Bukankah Alloh Azza Wa Jalla berfirman

"(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan tidak merasa takut kepada siapa pun selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan". [al-Ahzaab/33:39].

"Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”
[al-Mâidah/5:54].

Dan bukankah Rasululloh Sholallohu 'alaihi wassalam memberikan wasiatnya

Dari Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu 'alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), (5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.
(HR.Imam Ahmad,Imam ath-Thabrani,Imam Ibnu Hibban, Imam Abu Nu’aim, Imam al-Baihaqi).

*_* Aku memang manusia biasa penuh dosa dan punya kesalahan,tapi apapun perkataanmu tentangku tak akan mengurangi keinginanku dalam menyampaikan suatu yg haq... *_*

INGAT → Asal jangan pernah kau mengatakan ku "SOK KAFIR"....karena bila itu keluar dari mulutmu maka bukan jawaban ringan lagi yang akan kau terima...tapi....(SENSOR) Hm... *_*

Ah sudahlah...aku tak mau cari popularitas di dunia karena sangat-sangat tidak ada faedahnya...aku hanya ingin ridho Alloh Azza Wa Jalla...dan aku hanya ingin dikenal dengan penduduk langit...itu saja...

terimah kasih ayah dan ibu

Tanpa Ayah dan Ibu, aku tak ada di dunia.
Tanpa Ayah dan Ibu , aku bukan siapa-siapa.
Tanpa Ayah dan Ibu, aku bukan orang yag berguna.
 
Bersama Ayah dan Ibu, aku selalu didampingi.
Bersama Ayah dan Ibu, aku tak pernah merasa sendiri.
Bersama Ayah dan Ibu, hidupku lebih berarti.
Ayah dan Ibu selalu di hati.
 
Terima kasih Ayah dan Ibu, telah membesarkanku.
Terima kasih Ayah dan Ibu, telah memperhatikanku.
Terima kasih Ayah dan Ibu, atas segala yang diberikan kepadaku.
Terima kasih Ayah dan Ibu tercinta..

Senin, 28 November 2011

lihatlah muslimah itu

MUSLIMAH yang pandai memanfaatkan waktu.

MUSLIMAH yang tidak membuang-buang waktu untuk hal yang tidak bermanfaat.

MUSLIMAH yang senantiasa ingat akan datangnya KEMATIAN.

MUSLIMAH yang senantiasa mempersiapkan diri untuk kehidupan di alam baka.

MUSLIMAH yang tidak pernah memutuskan HUBUNGAN dengan ALLAH dan NEGERI AKHIRAT.

Ibnul Qayyim Rahimahullah:

“Membuang waktu LEBIH BERBAHAYA daripada kematian, karena menghilangkan (membuang) waktu akan memutuskan (hubungan) dengan Allah dan negeri akhirat, sedang kematian memutuskanmu dengan dunia dan penghuninya”.

Astaghfirullaahal ‘azhiim
Mengapa kita menangis dan bersedih? Apakah kerana kita ini kurang pandai dalam mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan pada kita? Apakah kita menangis kerana ragu pada kuasa Allah?


Apakah kita menangis kerana merasa Allah terlalu berat menguji kita? Apakah kita merasa Allah tidak adil kepada kita? Bukankah Allah telah menjanjikan sungaiNya bagi setiap hambaNya yang mampu melewati ujian hidup di dunia ini dengan baik?


Menangis atau bersedih bukanlah sesuatu yang hina, tergantung mengapa kita menangis.

Menangislah jika itu mengingatkan kita pada Tuhan. Menangislah jika itu membuat kita sedar bahawa kita ini benar-benar makhluk yang lemah.

Menangislah jika itu membuat kita sedar begitu banyak dosa-dosa kita selama ini.


“Maka mereka sedikit ketawa dan banyak menagis, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan”- At -Taubah 82.


Sesungguhnya, salah satu fungsi di ciptakan airmata diantaranya adalah dapat meringankan beban kita dan membuat kita bahagia. Itu menangis bahagia namanya.


Pemandangan jemaah haji menangis di hadapan Kaabah mungkin sudah biasa bila tiba musim haji.Malah seawal sanak saudara menghatar di lapangan terbang lagi dah ramai yang menangis. Itu lumrah setiap kali tiba musim haji.

Wallahu'alam~

tanpa judul

Nilai dari ''PERSAHABATAN'' yg ''SUCI'' takkan ''KERING'' di musim panas. Takkan ''LULUH'' dimusim hujan. Takkan ''BEKU'' dimusim dingin. Dìa akan terus mekar walau bukan dimusim ''BUNGA''. Carilah sahabat ibarat ''LILIN'' yang rela habis demi ''TERANG''. Jangan cari sahabat ibarat ''KUMBANG'' Karena habìs manìs sepah di buang.

tanpa judul

Seorang ulama salaf berkata:
“Aku mendapati orang2 yg tdk
memiliki cacat/cela lalu mereka membicarakan aib manusia mk manusia pun menceritakan aib-aib mereka. Aku dapati pula orang2 yg memiliki aib namun
mereka menahan diri dari membicarakan aib manusia yg
lain mk manusia pun melupakan aib mereka.”

Jami'ul Ulum Wal Hikam