Kamis, 15 Desember 2011

Pejuang Cinta atau Pecundang Cinta ?

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh
============================

Hohoho.. judulnya aja sudah membuat mata terbelalak walau barang sejenak *GeeR :p*.


Aku mau berbagi cerita sedikit mengenai sebuah ide dan pemikiran di kepala mungil ini *soknye :p*, dimana inspirasi untuk membuat tulisan ini kupetik ketika melihat sebuah acara reality show yang pernah ada di salah satu stasiun TV swasta kita.

Entah kenapa, diriku ini paling ‘gerah’ kalau mendengar kata ‘PACAR’ atau melihat orang ‘BERPACARAN’. Bukan ape-ape yee..daku memang termasuk dalam ‘Komunitas ACAR’ alias ANTI PACARAN. Bukan juga karena diriku yg ketika masih single belum pernah merasakan pacaran selama diriku bernafas. *tapi kan kamu dah merid? jadi bisa pacaran setelah nikah? Yup..tul skali..anda pinter..:p *

Tapi aku merasa risih aja dan mata ini sudah sangat jengah melihat segala atribut dan tetek bengek adanya orang2 yg berpacaran disekelilingku yg dengan ‘seenak udele dhewek’ main peluk-pelukan dan pegangan tangan kayak lem besi, kadang melayangkan ciuman curian ke pipi pasangannya, tanpa rasa malu dan risih sedikitpun, dan itu terjadi didepan mataku..:-@. Kalau ditegur dikira aku mencampuri urusan orang lain, kalu dibiarkan aku merasa ikut berdosa karena membiarkan suatu maksiat terjadi didepan mata tanpa aku bisa berbuat apa-apa. Jadinya ya gitu, diriku suka sangat-sangat sebel bin jengah binti senewen kalau melihat orang berpacaran didepan umum.

Apalagi untuk yang satu ini, yaitu adanya suatu acara Reality Show di TV atau aktivitas2 yg secara tidak langsung telah mendukung adanya ‘Program Pacaran’ yg khas dengan gaya anak muda jahiliyah yg jauh dari agama dan nilai syar’i . Naudzubillah... :(

Kira-kira setahun yg lalu, kalian tentu masih ingat adanya Reality Show di TV yang acaranya bernama “Katakan Cinta” ( sekarang sudah tidak tayang ). Acara itu biasanya diadakan di sekolah2 atau di kampus2, dimana di acara tersebut ada seorang pemuda yang berjuang dan merayu dengan segala cara, ingin menyatakan cinta kepada seorang wanita yg disukainya untuk dijadikan pacarnya. Sang pemuda dgn dandanan yg rapi, wangi, dengan seikat bunga mawar putih ditangan kanan dan sekantung coklat ditangan kiri, dengan muka malu-malu plus malu-maluin menyodorkan hadiah bunga itu kepada si wanita dgn berkata:

“ Duh bidadariku, aku sungguh cinta padamu dengan tulus, maukah kamu menjadi pacarku..? Jika kamu menerima cintaku, maka ambillah bunga mawar putih ini tanda cintaku yg suci, dan jika kamu menolak cintaku maka ambillah coklat ini...”. *Halaaahhh..pake bunga mawar segala, kenapa gak sekali2 pake bunga kamboja aja..:))*

Baytheway alias ngemeng-ngemeng, Kalau diriku yang jadi ceweknya di acara itu, tanpa pikir panjang walau seganteng apapun cowoknya, setajir apapun dia, aku pasti akan memilih coklatnya dan langsung kaburrrr. Wekekekekkkk..lumayan dapat sekantung coklat gratis..:p

Bayangkan sodara-sodari, dibawah gemerlap lampu kamera crew TV, disaksikan ratusan orang yg menonton secara langsung ditempat acara, dan jutaan pasang mata di seluruh indonesia yg melihat lewat TV, perjuangan cinta dan keberanian si pemuda ini seolah-olah HEBAT dimata kita, apalagi dimata mereka yang masih ABG alias Anak Baru Gendeng..hehehe.

Perjuangan menyatakan cinta kepada si gadis yg ditaksirnya, yg membuang jauh2 rasa malu karena ditonton jutaan mata di tiap rumah yang menonton TV, yg pelaku utamanya disebut ‘Pejuang Cinta’ ini menyedot perhatian pemuda pemudi remaja dan dewasa diseluruh indonesia dengan rating yg cukup bagus mengingat iklan yg disisipkan di acara ini jg berjubel. Bandingkan dengan acara reality show sejenis yg ditayangkan sekarang seperti acara: ‘Tolooongggg atau Jika Aku Menjadi’, sangat kontras bukan..?

Kembali ke cerita diatas, singkat ceritanya..dengan kata2 dan adegan2 yang sok romantis gaya si pemuda, ternyata si gadis yg ditaksir dalam acara tersebut memilih coklat ditangan kiri si pemuda, yg berarti bahwa cinta si pemuda DITOLAK!

Huwaaaaaaa... banyak penonton bengong dengan mata berkaca-kaca karena kasihan kepada si pemuda, tapi diriku yg menyaksikan adegan itu di depan TV justru berteriak girang heboh sendiri sampe-sampe tanpa sadar isi makanan kecil di toples yg kupegang berhamburan jatuh di lantai..*Lebay ach..:))*

Kenapa daku girang melihat cinta pemuda itu ditolak..?? Bukan karena diriku gak punya perasaan dan rasa kasihan, bukan juga karena aku benci dgn pemuda itu, toh daku jg gak kenal ama tuh orang, bukan jg karena cemburu ama si gadis yg ditaksir pemuda itu ( secoro, lebih imut icha drpd cewek itu..ngapain cemburu, hahaha pedenye..:p ),

Tapi alasan diriku senang karena dengan ditolaknya pemuda itu berarti satu aktivitas maksiat dibumi ini telah digagalkan, paling tidak telah berhasil ditunda. Harusnya pemuda itu bersyukur cintanya ditolak, itu artinya Allah masih sayang padanya agar dia sadar bahwa PACARAN itu tidak baik, hanya akan mengantar dia menuju dosa dengan aktivitas2 berpacarannya jika cintanya diterima si gadis. Betul gak sodara sodari..???

Sekarang mari aku ingin mengajak sahabat2 RDM-ku untuk menganalisa hal ini lebih jauh..: *sok bijak yee..;-)*

Si pemuda di acara tersebut, bisa saja kita sebut sebagai ‘Pejuang Cinta’ karena memang sudah berjuang menyatakan cinta kepada si gadis. Dikatakan pejuang karena ia juga sudah berhasil mengalahkan rasa malunya dengan mengatakan cinta kepada seorang anak manusia untuk menjadi pacarnya. ( tapi tapi tapiiiiiiii...Apakah dia merasa malu kepada Allah karena yang pasti DIA cemburu karena ada hambaNya yg lebih mencintai makhluk daripada mencintaiNya ).

Tapi ternyata...??? cintanya ditolak si gadis, maka jadilah ia ‘Pecundang Cinta’ dimata orang banyak. Sejam yg lalu ia dikatakan Pejuang Cinta, dielu-elukan penonton, sedetik kemudian ketika cintanya ditolak, maka iapun disebut ‘Pecundang Cinta’, BUKAN lagi pejuang. Dan itu juga disaksikan orang banyak. Duh, betapa malu dan mirisnya...!

Dan saking malunya dengan temen2nya, besoknya ia seminggu tidak masuk sekolah atau kuliah, tidak mau makan berhari-hari, dan mengurung diri dikamar kayak ayam kena epilepsi, hohoho kacian banget yak..! Dan emang dasarnya kalo lagi apes, besoknya lagi ketika ia sudah kembali masuk kuliah, ada temennya yang gak simpati dengan kesedihannya justru ngeledekin:

“ Eh, elo dapat salam tuh dari si Eka..”
“ Eka siapa...?” Matanya berbinar girang dan geer. Sedetik ia lupa kalau baru saja ditolak..
“ Itu tuh Eka yg kemarin lo taksir di acara TV dan elo ditolak ama dia..”
“ Yang benerr..? tapi dia namanya bukan Eka. Eh, tapi emang bener dia kirim salam ama gue..?” tanyanya penasaran.
“ Iya. Salam dari si Eka. Maksud gue... Eka sian dech lo...hahaha..” jawab temennya sambil ngeloyor pergi.

Kontan aja tuh cowok langsung lemes. Udah patah hati malah masih ada yg tega ngeledekin pula..*emang enaaakkk..???* ^.^

Sahabat2 RDM-ku yg ganteng2 dan cantik2... *Jarang lho icha muji orang klo bukan kalian..xixixi* ^.^

Kita kembali ke pokok bahasan: Seandainya cinta pemuda tadi diterima si gadis, tentu ia akan lebih dielu-elukan oleh penonton, dan di komunitas teman2nya bisa saja ia djuluki dengan sebutan inilah si ‘Pejuang Cinta Sejati’. Wuih, predikat yg hebat yee sampe mengalahkan predikat Haji Mabrur..ckckck.

TAPI INGATTTT......

Bagi si cowok yg cintanya diterima: Duhile pakdhe.. diterimanya cintamu oleh si gadis untuk menjadi pacarmu, inikah yg kau namakan Pejuang Cinta...??? Yakinkah dirimu bahwa Allah akan ridho dgn cara yg kau tempuh ini..?? Padahal diterimanya cintamu jadi pacarnya adalah pintu gerbang pertamamu menuju zina dan maksiat. PIKIRKAN !

Bagi si wanita atau ceweknya juga begitu: Duhile mbakyuuuu... JANGAN karena sudah bisa menolak atau menerima cinta si pemuda dan masuk TV lantas menjadikan dirimu Bangga dan Sombong. Justru sebaliknya, dirimu adalah sumber fitnah terbesar bagi laki2. Wanita mulia dan terhormat TIDAK AKAN mau dirinya dijadikan obyek dibawah sorot lampu kamera dan disaksikan jutaan pasang mata di depan TV hanya untuk sebuah cinta manusia yg semu dengan label Pacaran. PIKIRKAN !

Sekarang bandingkan dengan ilustrasi dibawah ini:

Seorang pemuda datang kerumah seorang gadis teman kuliahnya yg sudah dikenal cukup lama dan mereka cukup dekat. Dia tidak membawa kameramen TV untuk meliputnya, tidak membawa penonton yg banyak sebagi saksi, tidak membawa bunga mawar dan coklat, apalagi dengan penampilan yg borju. Si pemuda datang dgn tangan kosong, pakaian sederhana yg bersih dan pantas dipakai, tekad serta niat baik lalu menghadap orang tua si gadis. Setelah sedikit bicara basa basi, si pemuda berkata dengan mantap dan percaya diri:

“Pak, kedatangan saya kesini yg pertama untuk silaturahmi dengan keluarga bapak. Yang kedua, dengan niat Bismillaahirrahmaanirrahiim, saya bermaksud melamar putri bapak yg bernama si fulanah untuk menjadi istri saya. Saat ini saya bekerja di sebuah perusahaan X, dengan gaji yg tidak cukup besar tapi insaAllah saya akan bertanggungjawab sanggup untuk menghidupi putri bapak...”

Hwaaaaa..JOSSSS..JEMPOLLL... TWO THUMPS UP !!! Menurut Icha inilah potret pemuda dan sang ‘Pejuang Cinta’ yang sebenarnya !

Perhatikan..! Kita misalkan bahwa setelah si pemuda mengatakan maksudnya itu, orang tua si gadis lalu melakukan Tabayyun ( cross check ) dengan keluarga si pemuda. Dan hasilnya, cinta dan lamaran pemuda itu diterima oleh orang tua si gadis. Alhamdulillah wa syukurilah. Ada seribu bahagia dan sejuta bunga-bunga di hatinya. Jalan cinta menuju ridho Allah ternyata gak sesulit yg dibayangkan. Tanpa pacaran, tanpa embel-embel ‘pernah memegang si gadis atau mencium si gadis’, de el el. Cintanya akan menjadi halal, dan teman2nya akan mengucapkan selamat karena sebentar lagi dia akan menikah.

( Cerita ilustrasi diatas ini bukan fiktif lho, banyak yang sudah terjadi dalam kehidupan nyata sekarang ini. Bukti konkritnya yg paling mahsyur adalah kisah cinta antara Ali dan Fatimah di jaman Rasulullah. Waktu itu Ali melamar fatimah hanya bermodalkan HATI dan PEDANG, ILMU dan IMAN, dan sedikit persediaan gandum dirumahnya serta keyakinan yg kuat bahwa Allah Maha Kaya. Tapi apa yg terjadi..? lamaran Ali diterima ayah Fatimah, Rasulullah saw, dengan mengatakan kepada Ali : Ahlan wa syahlan ! Subhanallah... *Baca buku berjudul: Jalan Cinta Para Pejuang, dengan chapter asli berjudul: Mencintai Sejantan Ali. Atau bisa dibaca di note RDM dgn mengklik link berikut ini :
http://www.facebook.com/note.php?created&&note_id=178464838848838&id=137365446278178 .

Pun seandainya cinta dan lamaran si pemuda tadi ditolak oleh orang tua si gadis, apakah itu akan membuat dia jadi ‘Pecundang Cinta’ seperti yg terjadi dgn cerita sebelumnya..? TIDAK ! Ia akan tetap disebut Pejuang, karena ia telah memperjuangkan cintanya dengan jalan yg benar dan syar’i. Tidak ada kata Pecundang untuk sesuatu yg dilakukan dalam rangka ibadah mengharap ridho Allah. Bukankah melamar si gadis kpd orang tuanya merupakan langkah ibadah...??

So..,tidak ada orang yg akan menyebutnya sebagai pecundang cinta kecuali orang2 yang bodoh dan jauh dari agama. Justru orang2 akan simpati dan terus memberinya semangat:

“ Sabar ya akhi,mungkin belum rejeki...”
“ Terus berjuang saudaraku, sekali ditolak..berarti siap2 menuju perubahan ke arah yg lebih baik..”
“ Kegagalan melamar bukan berarti berakhirnya hidup. Karena Allah sudah menyiapkan gantinya yg jauh lebih baik..yakinlah itu kawan..keep hamasah yach..”

Dan masih banyak ucapan2 simpati dari teman2 dan keluarganya yg memotivasi dirinya agar tidak futur dan sedih. Dan efeknya luarbiasa, si pemuda jadi makin dekat kepada Allah, jadi tambah giat ibadahnya, makin rajin sholat malam dan ibadah2 sunahnya, dan akhirnya ketika tiba waktunya Allah memberinya jodoh seorang gadis manis nan sholehah, semua orang berseru kepadanya: Subhanallah..aku iri padamu !!

Naaaahhhhhh...gimana gimana gimanaaaaaaa...??? ;-)))

Sekarang mana yang kau pilih, jadi Pejuang Cinta atau Pecundang Cinta ?!
-----------------------------------------------------------------------------------

==> Yang baca wajib koment, kritik dan saran seperti biasa: ditampung ama gayung..^.^

Barakallahufikum..banyak sayang dan cinta, jabat erat dan salam hangat..
Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh,,,,,,,,,,

jangan mencintai secara berlebihan dan jangan membenci secara berlebihan

"Cintailah kekasihmu dengan sederhana, boleh jadi engkau akan membencinya pada suatu ketika. Dan bencilah orang yang engkau benci dengan sederhana, boleh jadi engkau akan mengasihinya pada suatu ketika." (HR At-Turmuzi).
Hadis ini mengingatkan bahwa kalau kita mencintai seseorang jangan berlebihan, demikian sebaliknya, kalau kita membenci seseorang jangan berlebihan juga.

Kecintaan yang berlebihan terhadap seseorang atau kelompok dapat melahirkan pertimbangan dan kebijakan yang tidak adil. Nepotisme, kronisme atau koncoisme yang terjadi adalah akibat cinta yang berlebihan terhadap keluarga, teman atau kelompoknya.

Nepotisme di masa kekhalifahan Usman bin Affan (644-656 M) adalah akibat kasih sayang yang berlebihan terhadap keluarganya. Akhirnya timbul penyelewengan- penyelewengan, lalu muncul ketidakpuasan masyarakat, terjadi pemberontakan yang kemudian menewaskan beliau.

Di saat beliau dalam bahaya sampai tewasnya, tidak ada keluarga beliau, yang selama itu ditolongnya dengan berbagai fasilitas di pemerintahan, tampil untuk melindungi beliau. Kebencian yang melampaui batas juga dapat melahirkan kebijakan yang tidak adil. Pembantaian terhadap Husein bin Ali, cucu Nabi SAW, di masa dinasti Bani Umayyah (abad 7), dan pembunuhan terhadap seluruh keluarga Bani Umayyah di masa dinasti Abbasiyah (abad 8) adalah akibat benci yang berlebihan.

Allah SWT berfirman: "...Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS Al-Maidah, 5:8). Bila kita mencermati masyarakat, kini dua sifat tersebut muncul. Satu kelompok mencintai pemimpinnya secara berlebihan, sehingga ketika pemimpinnya diperingatkan oleh masyarakat lain, masyarakat tersebut membelanya secara membabi buta hingga timbul kekerasan dan anarkisme.

Sementara di kelompok lain lagi sedang berjangkit rasa benci dan dendam yang berlebihan. Akibat benci dan dendam yang kelewat batas itu kini tengah terjadi tindakan balas dendam, pembantaian, amuk massa dan anarkisme. Dua sifat yang berlebihan itu sama-sama negatifnya dan sama-sama besar bahayanya. Oleh karenanya kita hendaklah menghindarinya. Kiranya pesan Nabi dalam hadis di atas menjadi renungan kita semua.

Wallahu a'lam bish-shawab

beljara istiqomah berdasarkan Alquran

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku” (QS Al-Fajr [89]:27-30)

Ungkapan lembut tersebut adalah rayuan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang juga disertai ajakan yang provokatif. Bagaimana mungkin kita tidak tergiur dengan rayuan semacam itu?

Kita bisa bekerja dengan keras saat jiwa kita sedang asyik dengan Al-Qur’an. Tetapi di saat yang lain, kita mungkin mengalami kondisi keengganan yang besar, jangankan disuruh menghafal, sekedar melihat mushaf pun sangat tidak siap. Untuk kondisi seperti itu, kita perlu merayu diri sendiri, merenungi kehidupan diri kita sendiri sambil mencari bahasa apa yang dapat membangkitkan energi kita untuk kembali bekerja: meraih cita-cita hidup bersama Al-Qur’an.

Berbagai permasalahan umum pada diri kita saat berinteraksi dengan Al-Qur’an antara lain:

1. Kita sadar sepenuhnya bahwa tilawah setiap hari adalah keharusan, tetapi jiwa kita belum siap untuk komitmen secara rutin sehingga dalam sebulan, begitu banyak hari-hari yang terlewatkan tanpa tilawah Al-Qur’an.

2. Kita paham bahwa menghafal Al-Qur’an adalah kemuliaan yang besar manfaatnya, tetapi jiwa kita belum siap untuk meraihnya dengan mujahadah.

3. Kita sadar bahwa masih banyak ayat yang belum kita pahami, namun jiwa kita tidak siap untuk melakukan berbagai langkah standar minimal untuk dapat memahami isi Al-Qur’an.

4. Kita sadar bahwa mengajarkan Al-Qur’an sangat besar fadhillahnya, tetapi karena minimnya apresiasi dan penghargaan ummat terhadap para pengajar Al-Qur’an maka sangat sedikit yang siap menjadi pengajar Al-Qur’an.

5. Kita paham bahwa shalat yang baik - khususnya shalat malam - adalah shalat yang panjang dan sebenarnya kita mampu membaca sekian banyak ayat, namun jiwa kita kadang tidak tertarik terhadap besarnya fadhillah membaca Al-Qur’an di dalam shalat.

6. Kita sadar bahwa dakwah dijamin oleh nash Al-Qur’an dan Allah Swt akan memberikan kemenangan, namun jiwa kita tidak sabar dengan prosesnya yang panjang sehingga cenderung meninggalkan atau lari dari medan dakwah.

7. Kita paham betul bahwa banyak keutamaan di dunia dan akhirat bagi manusia yang berinteraksi dengan Al-Qur’an, tetapi fadhillah tersebut hanya menjadi pengetahuan, tidak mampu menghasilkan energi yang besar untuk beristiqamah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.

8. Kita paham dengan sangat jelas bahwa semua tokoh Islam di atas bumi ini adalah orang-orang yang telah berhasil dengan ilmu Al-Qur’an dan merekapun menguasai kehidupan dunia, namun jiwa kita enggan mempersiapkan generasi mendatang yang hidupnya berada di bawah naungan Al-Qur’an.

Jangan pernah berhenti untuk merayu diri agar segera bangkit. Tanyakanlah pada diri kita:

1. Wahai diri, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Mengaku cinta kepada Allah Swt tetapi tidak merasa senang berinteraksi dengan Kalam-Nya. Bukankah ketika manusia cinta dengan manusia lain, ia menjadi senang membaca suratnya bahkan berulang-ulang? Mengapa kamu begitu berat dan enggap untuk hidup dengan wahyu Allah Swt? Adakah jaminan bahwa kamu mendapat pahala gratis tanpa beramal shalih? Dengan apa lagi kamu mampu meraih pahala Allah Swt? Infak cuma sedikit, jihad belum siap, kalau tidak dengan Al-Qur’an, dengan apa lagi?

2. Wahai jiwaku, siapa yang menjamin keamanan dirimu saat gentingnya suasana akhirat? Padahal Rasulullah Saw menjamin bahwa Allah Swt akan memberikan keamanan bagi manusia yang rajin berinteraksi dengan Al-Qur’an, mulai dari sakaratul maut hingga saat melewati shirat.

3. Wahai jiwaku, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Dengan nikmat-Nya yang demikian banyak, yang diminta maupun tidak, tidakkah kamu bersyukur kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an?

4. Wahai jiwaku, sadarkah kamu ketika Allah Swt dan Rasulnya mengajak dirimu memperbanyak hidup bersama Al-Qur’an? Untuk siapakah manfaat amal tersebut? Apakah kamu mengira bahwa dengan banyak membaca Al-Qur’an maka kemuliaan Allah dan Rasul-Nya menjadi bertambah? Dan sebaliknya, jika kamu tidak membaca Al-Qur’an, kemuliaan itu berkurang? Sekali-kali tidak. Semua yang kita baca dan lakukan, kitalah yang paling banyak mendapatkan manfaatnya.

5. Wahai jiwa, tidakkah kamu merasa khawatir dengan dirimu sendiri? Selama ini hidup tanpa al-Qur’an, jatah usia makin sedikit, tabungan amal shalih masih sedikit, jaminan masuk surga tak ada di tangan. Sampai saat ini belum mampu tilawah rutin satu juz per hari, jangan-jangan Al-Qur’anlah yang tidak mau bersama dirimu karena begitu kotornya dirimu sehingga Al-Qur’an selalu menjauh dari dirimu.

6. Wahai jiwa, tidakkah engkau tergiur untuk mengikuti kehidupan Rasulullah Saw dan para sahabat serta tabiin yang menjadi kenangan sejarah sepanjang zaman dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an? Jika hari ini kamu masih enggan berinteraksi dengan Al-Qur’an apa yang akan dikenang oleh generasi yang akan datang tentang dirimu?
Ungkapan di atas adalah perenungan terhadap diri sendiri dalam urusan dunia dan akhirat, hal yang dianjurkan oleh Allah Swt agar hidup kita tidak berlalu begitu saja tanpa makna.

“….Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-nya kepadamu supaya kamu berpikir. Tentang dunia dan akhirat…” (QS Al-Baqarah [2]: 219-220)

Senin, 12 Desember 2011

kerinduan cinta haha

Kerinduan… Tetaplah sama.. Ia bisa menyapa siapa saja, kapan saja…

Mungkin yang berbeda adalah pada objek nya, siapa yang di rindui…

Ketika jiwa mulai merindu..

Ketika canda tawa sahabat tak bisa lagi menceriakan..

Ketika ditengah ramai dengan orang-orang yang ada disekitar, hatimu tetap merasakan sebuah kesepian..

Mungkin ini saat nya dirimu perlu berdua.. dirimu memerlukan seseorang yang menjadi sahabat sejiwamu.. belahan jiwa mu… Tempat dimana jiwa mu bertepi, menyandarkan rasa yang berpelangi… Indah memang…

Namun..tak perlu engkau gusar, lalu terburu-buru memutuskan untuk menyerahkan sebuah cintamu pada seseorang.. bisa jadi engkau salah menempatkan perasaanmu… mungkin saja cintamu  salah alamat..

Tetaplah jaga kemuliaanmu, tundukkan rasa dan gerak yang bisa merendahkan nilai dirimu, pertahankan agar senantiasa ‘malu’ menjadi penghiasmu…

Bukankah engkau menginginkan yang terbaik?.. Meski kadangkala yang terbaik tidak selalu seperti yang kau inginkan.. Tapi yakinlah akan janjiNya, bahwa wanita baik-baik hanya untuk laki-laki baik-baik..

Bersabar dan tetap bersahaja dalam penantianmu…meski ikhtiar tak boleh kau abaikan… Jalani sesuai ketentuan sang Pemilik kehidupanmu…

Bila telah sampai waktunya.. Detik demi detik masa ta’aruf mu akan begitu mendebarkan… Saat-saat menuju pernikahan agung itu akan begitu mengharukan…

Kau tahu mengapa??...karena itulah waktu yang tepat untuk pertama kalinya cintamu mekar dari kuncupnya…

Akan menjadi sebuah keharuan, karena luapan cinta yang merekah telah tertuju pada satu orang yang tepat…pada dia..suamimu..

Akan menjadi suatu kemuliaan, karena semua keindahan itu bernilai ibadah dan menuai pahala.. Subhanallah…

Dirimu adalah yang terpilih bagi dia yang telah dipilihkan olehNya…

Begitulah seharusnya merekahkan cintaku…cintamu…. Cinta yang terpilih…
Ada berkuntum bahagia…

senandung doa

BismillaahirRohmaanirRohiim..



Ya Rabbi....,
Aku masih ingat, saat pertama
dulu aku belajar mencintai-Mu.
Kajian demi kajian tarbiyah
kupelajari,
... untai demi untai kata para
ustadz kuresapi.
Tentang cinta para nabi, tentang
kasih para sahabat,tentang mahabbah orang shalih,
tentang kerinduan para syuhada.
Lalu kutanam di jiwa dalam-
dalam,
kutumbuhkan dalam mimpi
idealisme yang mengawang di
awan.

Tapi Rabbi…
Berbilang hari demi hari dan
kemudian tahun berlalu,
tapi aku masih juga tak
menemukan cinta tertinggi
untuk-Mu,
aku makin merasakan gelisahku
membadai
dalam cita yang mengawang,
sedang kakiku mengambang.
Hingga aku terhempas dalam
jurang dan kegelapan.

Allahu Rahiim, Illahi Rabbii,
perkenankanlah aku mencintai-
Mu semampuku.
Perkenankanlah aku mencintai-
Mu, sebisaku.
Dengan segala kelemahanku.
Ilaahi,
Aku tak sanggup mencintai-Mu
dengan kesabaran menanggung
derita.
Umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa
hingga Al-Mustafa.
Karena itu ijinkan aku mencintai-
Mu
melalui keluh kesah
pengaduanku pada-Mu,
atas derita batin dan jasadku,
atas sakit dan ketakutanku.

Rabbii,
Aku tak sanggup mencintai-Mu
seperti Abu Bakar,
yang menyedekahkan seluruh
hartanya
dan hanya meninggalkan Engkau
dan Rasul-Mu
bagi diri dan keluarganya.
Atau layaknya Umar yang
menyerahkan separo hartanya
demi jihad.
Atau Ustman yang menyerahkan
1000 ekor kuda untuk syiarkan
Dien-Mu.
Ijinkan aku mencintai-Mu,
melalui 100-500 perak yang
terulur
pada tangan-tangan kecil di
perempatan jalan,
pada wanita-wanita tua yang
menadahkan tangan
di pojok-pojok jembatan. Pada
makanan-makanan
yang terkirim ke handai taulan.

Illahi,
Aku tak sanggup mencintai-Mu
dengan khusyuknya shalat salah
seorang sahabat nabi-Mu,
hingga tiada terasa anak panah
musuh terhujam di kakinya.
Karena itu Ya Allah,
perkenankanlah aku tertatih
menggapai cinta-Mu,
dalam shalat yang coba kudirikan
dengan terbata-bata,
meski ingatan kadang melayang
ke berbagai permasalahan dunia.

Rabbii,
aku tak dapat beribadah ala
orang-orang shalih
atau bagai para hafidz dan
hafidzah yang membaktikan
seluruh malamnya untuk bercinta
dengan-Mu
dalam satu putaran malam.
Perkenankanlah aku mencintai-
Mu,
melalui satu - dua rakaat sholat
lailku,
atau sekedar sunnah nafilahku,
selembar dua lembar tilawah
harianku.
Lewat lantunan seayat dua ayat
hafalanku.

Yaa Rahiim,
aku tak sanggup mencintai-Mu
semisal para syuhada,
yang menjual dirinya dalam jihad
bagi-Mu.
Maka perkenankanlah aku
mencintai-Mu
dengan mempersembahkan
sedikit bakti
dan pengorbanan untuk
dakwah-Mu,
dengan sedikit pengajaran bagi
tumbuhnya generasi baru.

Allahu Kariim,
aku tak sanggup mencintai-Mu di
atas segalanya,
ijinkan aku mencintai-Mu dengan
mencintai keluargaku,
membawa mereka pada
nikmatnya hidayah
dalam naungan Islam, manisnya
iman dan ketabahan.
Dengan mencintai sahabat-
sahabatku,
mengajak mereka untuk lebih
mengenal-Mu,
dengan mencintai manusia dan
alam semesta.
Perkenankanlah aku
mencintaiMu semampuku, Yaa
Allah.
Agar cinta itu mengalun dalam
jiwa.
Agar cinta ini mengalir di
sepanjang nadiku.
Aamiin..

R E N U N G A N H A TI

Kadang aku jatuh cinta. Entah pada siapa. Hanya mencinta tanpa dicintai. Rindu pada sesuatu yang tak ada. Mungkin aku hanya mencintai rasa yang tumbuh, euphoria yang membuncah, bermain bersamanya, kemudian meninggalkannya jika bosan. Namun akan selalu kembali untuk mencintai. Aku tak juga jera mencinta.

Indah. Aku cinta diriku ketika aku jatuh cinta. Jiwaku benyanyi riang. Kehangatan menyelusup masuk dalam batinku. Duniaku mekar. Harum yang selalu kucari. Matahari hanya menyinariku. Hujan tercipta untukku, dan pelangi tersenyum padaku. Hanya aku. Langkahku ringan. Tidak, aku tak melangkah ketika jatuh cinta. Aku melayang bersama angin. Hinggap di tempat yang kusuka. Berpijak di tanah yang kuinginkan. Bersua dengan euphoria kembali dan melambaikan selamat tinggal pada luka. Tinggal di sana sampai aku ingin pergi. Lagi. Dan angin kembali menghantarku. Ia sahabatku yang paling setia.

Namun aku benci ketika aku tak mencinta. Aku hampa. Jiwaku terbang bersama angin tanpa diriku. Aku sendirian. Aku bosan. Aku kesepian menunggu kapan jiwaku kembali. Luka yang kutinggalkan kembali menyapaku. Membawa sakit menusuk. Merobek hati kosong yang ditinggalkan oleh jiwaku. Hanya dingin dan pedih yang dapat kurasakan. Aku ingin kehangatan itu kembali.

Jatuh cintaku manis. Memenuhi ruang yang kosong. Memanaskan darahku. Menyejukkan batinku. Aku selalu rindu jatuh cinta. Aku ingin terus jatuh cinta. Aku tak ingin tak lagi bisa mencinta.

Hanya saja, saat ini aku tak bisa mencinta. Jiwaku tengah berkelana seorang diri. Mungkin menemui sesosok jiwa lain dalam kehampaan yang ia tinggalkan untukku. Jika angin hendak menyampaikan, aku titip salam cinta untuk jiwaku yang tengah bercengkrama. Ketika jiwaku kembali, aku ingin ia bercerita tentang rendezvous-nya. Dan suatu saat nanti, angin akan kembali mengantarku. Dipandu oleh jiwaku. Bertemu jiwa yang sering bersua jiwaku dalam kehampaan. Namun kali ini aku berjumpa tidak dalam kehampaan, melainkan dalam kehangatan cinta. Aku hinggap di sampingnya dan tak lagi pergi. Angin hanya menghantarku sekali jalan. Tak membawaku pulang. Lalu, akankah aku berhenti jatuh cinta?

LANGKAH-LANGKAH SETAN MENELANJANGI WANITA

Setan dalam menggoda manusia memiliki berbagai macam strategi, dan yang sering dipakai adalah dengan memanfaatkan hawa nafsu, yang memang memiliki kecenderungan mengajak kepada keburukan. Setan tahu persis kecenderungan nafsu kita, dia terus berusaha agar manusia keluar dari garis yang telah ditentukan Allah, termasuk melepaskan hijab atau pakaian muslimah. Berikut ini tahapan-tahapannya.

I. Menghilangkan Definisi Hijab

Dalam tahap ini setan membisikkan kepada para wanita, bahwa pakaian apapun termasuk hijab (penutup) itu tidak ada kaitannya dengan agama, ia hanya sekedar pakaian atau mode hiasan bagi para wanita. Jadi tidak ada pakaian syar'i, pakaian ya pakaian, apa pun bentuk dan namanya.

Sehingga akibatnya, ketika zaman telah berubah, atau kebudayaan manusia telah berganti, maka tidak ada masalah pakaian ikut ganti juga. Demikian pula ketika seseorang berpindah dari suatu negeri ke negeri yang lain, maka harus menyesuaikan diri dengan pakaian penduduknya, apapun yang mereka pakai.

Berbeda halnya jika seorang wanita berkeyakinan, bahwa hijab adalah pakaian syar'i (identitas keislaman), dan memakainya adalah ibadah bukan sekedar mode. Biarpun hidup kapan saja dan di mana saja, maka hijab syar'i tetap dipertahankan.

Apabila seorang wanita masih bertahan dengan prinsip hijabnya, maka setan beralih dengan strategi yang lebih halus. Caranya?

Pertama, Membuka Bagian Tangan

Telapak tangan mungkin sudah terbiasa terbuka, maka setan membisik kan kepada para wanita agar ada sedikit peningkatan model yakni membuka bagian hasta (siku hingga telapak tangan). "Ah tidak apa-apa, kan masih pakai jilbab dan pakai baju panjang? Begitu bisikan setan. Dan benar sang wanita akhirnya memakai pakain model baru yang menampakkan tangannya, dan ternyata para lelaki yang melihat nya juga biasa-biasa saja. Maka setan berbisik, "Tuh tidak apa-apa kan?"

Kedua, Membuka Leher dan Dada

Setelah menampakkan tangan menjadi kebiasaan, maka datanglah setan untuk membisikkan hal baru lagi. "Kini buka tangan sudah lumrah, maka perlu ada peningkatan model pakaian yang lebih maju lagi, yakni terbuka bagian atas dada kamu." Tapi jangan sebut sebagai pakaian terbuka, hanya sekedar sedikit untuk mendapatkan hawa, agar tidak gerah. Cobalah! Orang pasti tidak akan peduli, sebab hanya bagian kecil saja yang terbuka.

Maka dipakailah pakaian model baru yang terbuka bagian leher dan dadanya dari yang model setengah lingkaran hingga yang model bentuk huruf "V" yang tentu menjadikan lebih terlihat lagi bagian sensitif lagi dari dadanya.

Ketiga, Berpakian Tapi Telanjang

Setan berbisik lagi, "Pakaian kok hanya gitu-gitu saja, cari model atau bahan lain yang lebih bagus! Tapi apa ya? Sang wanita bergumam. "Banyak model dan kain yang agak tipis, lalu bentuknya dibuat yang agak ketat biar lebih enak dipandang," setan memberi ide baru.

Maka tergodalah si wanita, di carilah model pakaian yang ketat dan kain yang tipis bahkan transparan. "Nggak apa-apa kok, kan potongan pakaiannya masih panjang, hanya bahan dan modelnya saja yang agak berbeda, biar nampak lebih feminin," begitu dia menambahkan. Walhasil pakaian tersebut akhirnya membudaya di kalangan wanita muslimah, makin hari makin bertambah ketat dan transparan, maka jadilah mereka wanita yang disebut oleh Nabi sebagai wanita kasiyat 'ariyat (berpakaian tetapi telanjang).

Keempat, Agak di Buka Sedikit

Setelah para wanita muslimah mengenakan busana yang ketat, maka setan datang lagi. Dan sebagaimana biasanya dia menawarkan ide baru yang sepertinya segar dan enak, yakni dibisiki wanita itu, "Pakaian seperti ini membuat susah berjalan atau duduk, soalnya sempit, apa nggak sebaiknya di belah hingga lutut atau mendekati paha?" Dengan itu kamu akan lebih leluasa, lebih kelihatan lincah dan enerjik."

Lalu dicobalah ide baru itu, dan memang benar dengan dibelah mulai bagian bawah hingga lutut atau mendekati paha ternyata membuat lebih enak dan leluasa, terutama ketika akan duduk atau naik ke jok mobil. "Yah tersingkap sedikit nggak apa-apa lah, yang penting enjoy," katanya.

Inilah tahapan awal setan merusak kaum wanita, hingga tahap ini pakaian masih tetap utuh dan panjang, hanya model, corak, potongan dan bahan saja yang dibuat berbeda dengan hijab syar'i yang sebenarnya. Maka kini mulailah setan pada tahapan berikutnya.

II. Terbuka Sedikit Demi Sedikit

Kini setan melangkah lagi, dengan trik dan siasat lain yang lebih ampuh, tujuannya agar para wanita menampakkan bagian aurat tubuhnya.

Pertama, Membuka Telapak Kaki dan Tumit.

Setan Berbisik kepada para wanita, "Baju panjang benar-benar membuat repot, kalau hanya dengan membelah sedikit bagiannya masih kurang leluasa, lebih enak kalau di potong saja hingga atas mata kaki." Ini baru agak longgar. "Oh ada yang kelupaan, kalau kamu bakai baju demikian, maka jilbab yang besar tidak cocok lagi, sekarang kamu cari jilbab yang kecil agar lebih serasi dan gaul, toh orang tetap menamakannya dengan jilbab."

Maka para wanita yang terpengaruh dengan bisikan ini buru-buru mencari model pakaian yang dimaksudkan. Tak ketinggalan sepatu hak tinggi, yang kalau untuk berjalan mengeluarkan suara yang menarik perhatian orang.

Kedua, Membuka Seperempat Hingga Separuh Betis

Terbuka telapak kaki telah biasa ia lakukan, dan ternyata orang-orang yang melihat juga tidak begitu peduli. Maka setan kembali berbisik, "Ternyata kebanyakan manusia menyukai apa yang kamu lakukan, buktinya mereka tidak bereaksi apa-apa, kecuali hanya beberapa orang. Kalau langkah kakimu masih kurang leluasa, maka cobalah kamu cari model lain yang lebih enak, bukankah kini banyak rok setengah betis dijual di pasaran? Tidak usah terlalu mencolok, hanya terlihat kira-kira sepuluh senti saja." Nanti kalau sudah terbiasa, baru kamu cari model baru yang terbuka hingga setengah betis."

Benar-benar bisikan setan dan hawa nafsu telah menjadi penasehat pribadinya, sehingga apa yang saja yang dibisikkan setan dalam jiwanya dia turuti. Maka terbiasalah dia mema-kai pakaian yang terlihat separuh betisnya kemana saja dia pergi.

Ketiga, Terbuka Seluruh Betis

Kini di mata si wanita, zaman benar-benar telah berubah, setan telah berhasil membalikkan pandangan jernihnya. Terkadang sang wanita berpikir, apakah ini tidak menyelisihi para wanita di masa Nabi dahulu. Namun buru-buru bisikan setan dan hawa nafsu menyahut, "Ah jelas enggak, kan sekarang zaman sudah berubah, kalau zaman dulu para lelaki mengangkat pakaiannya hingga setengah betis, maka wanitanya harus menyelisihi dengan menjulurkannya hingga menutup telapak kaki, tapi kini lain, sekarang banyak laki-laki yang menurunkan pakaiannya hingga bawah mata kaki, maka wanitanya harus menyelisihi mereka yaitu dengan mengangkatnya hingga setengah betis atau kalau perlu lebih ke atas lagi, sehingga nampak seluruh betisnya."

Tetapi… apakah itu tidak menjadi fitnah bagi kaum laki-laki," gumamnya. "Fitnah? Ah itu kan zaman dulu, di masa itu kaum laki-laki tidak suka kalau wanita menampakkan auratnya, sehingga wanita-wanita mereka lebih banyak di rumah dan pakaian mereka sangat tertutup. Tapi sekarang sudah berbeda, kini kaum laki-laki kalau melihat bagian tubuh wanita yang terbuka malah senang dan mengatakan ooh atau wow, bukankah ini berarti sudah tidak ada lagi fitnah, karena sama-sama suka? Lihat saja model pakaian di sana-sini, dari yang di emperan hingga yang yang bermerek kenamaan, seperti Kristian Dior, semuanya menawarkan model yang dirancang khusus untuk wanita maju di zaman ini. Kalau kamu tidak mengikuti model itu akan menjadi wanita yang ketinggalan zaman."

Demikianlah, maka pakaian yang menampakkan seluruh betis biasa dia kenakan, apalagi banyak para wanita yang memakainya dan sedikit sekali orang yang mempermasalahkan itu. Kini tibalah saatnya setan melancarkan tahap terakhir dari siasatnya untuk melucuti hijab wanita.

III. Serba Mini

Setelah pakaian yang menampak kan betis menjadi pakaian sehari-hari dan dirasa biasa-biasa saja, maka datanglah bisikan setan yang lain. "Pakaian membutuhkan variasi, jangan itu-itu saja, sekarang ini modelnya rok mini, dan agar serasi rambut kepala harus terbuka, sehingga benar-benar kelihatan indah."

Maka akhirnya rok mini yang menampakkan bagian bawah paha dia pakai, bajunya pun bervariasi, ada yang terbuka hingga lengan tangan, terbuka bagian dada sekaligus bagian punggung nya dan berbagai model lain yang serba pendek dan mini. Koleksi pakaiannya sangat beraneka ragam, ada pakaian pesta, berlibur, pakaian kerja, pakaian resmi, pakaian malam, sore, musim panas, musim dingin dan lain-lain, tak ketinggalan celana pendek separuh paha pun dia miliki, model dan warna rambut juga ikut bervariasi, semuanya telah dicoba.

Begitulah sesuatu yang sepertinya mustahil untuk dilakukan, ternyata kalau sudah dihiasi oleh setan, maka segalanya menjadi serba mungkin dan diterima oleh manusia.

Hingga suatu ketika, muncul ide untuk mandi di kolam renang terbuka atau mandi di pantai, di mana semua wanitanya sama, hanya dua bagian paling rawan saja yang tersisa untuk ditutupi, kemaluan dan buah dada. Mereka semua mengenakan pakaian yang sering disebut dengan "bikini". Karena semuanya begitu, maka harus ikut begitu, dan na'udzu billah bisikan setan berhasil, tujuannya tercapai, "Menelanjangi Kaum Wanita." Selanjutnya terserah kamu wahai wanita, kalian semua sama, telanjang di hadapan laki-laki lain, di tempat umum. Aku berlepas diri kalau nanti kelak kalian sama-sama di neraka. Aku hanya menunjukkan jalan, engkau sendiri yang melakukan itu semua, maka tanggung sendiri semua dosamu" Setan tak mau ambil resiko.


Penutup

Demikian halus, cara yang digunakan setan, sehingga manusia terjerumus dalam dosa tanpa terasa. Maka hendaklah kita semua, terutama orang tua jika melihat gejala menyimpang pada anak-anak gadis dan para wanita kita sekecil apapun, segera secepatnya diambil tindakan. Jangan biarkan berlarut-larut, karena kalau dibiarkan dan telah menjadi kebiasaan, maka sangat sulit bagi kita untuk mengatasinya.

Membiarkan mereka membuka aurat berarti merelakan mereka mendapatkan laknat Allah, kasihanilah mereka, selamatkan para wanita muslimah, jangan jerumuskan mereka ke dalam kebinasaan yang menyeng-sarakan, baik di dunia maupun di akhirat. Wallahu a'lam bis shawab.