Kamis, 09 Februari 2012
Senandung Doa…
Tuhan…
aku titipkan dia kepada Mu
dia, bagian dari tulang rusukku yang hilang…
... dia, separuh jiwa ku
yang nama dan keberadaanya masih Kau rahasiakan dariku
Tuhan…
jika dia membutuhkan ku
Izinkan aku melakukan sesuatu untuknya…
jika hatinya tumpul…
berilah cahaya Mu ke dalam nuraninya
Tuhan…
tegarkan dia
jika dia dirundung duka
hibur dia
jika hatinya tergores luka
temani dia
jika dia butuh teman bicara
Tuhan…
jika dia merindukan aku
bisikkan padanya
bahwa aku juga merasakan hal yang sama
jika dia menantikan pertemuan denganku
katakan padanya
bahwa aku juga menantikan saat itu tiba
Tuhan…
tolong jaga dan lindungi dia untukku
hingga pada suatu hari nanti
atas izin Mu
kami bisa bertemu…
aamiin
Pengantin Bidadari
(Ibnu Qayyim Al Jauziyah)
Sebagai seorang pengantin, wanita lebih cantik dibanding seorang gadis
Sebagai seorang ibu, wanita lebih cantik dibanding seorang pengantin
Sebagai istri dan ibu, ia adalah kata-kata terindah di semua musim
dan dia tumbuh menjadi lebih cantik bertahun-tahun kemudian…
***
Syahdan, di Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid.
Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan taat.
Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah. Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai alasan.
Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan tersebut kepada sahabat yang dekat dengan Rasulullah.
“Coba engkau temui langsung Baginda Nabi, semoga engkau mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu”, nasihat mereka.
Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda Nabi. Sambil tersenyum beliau berkata:
“Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan?”
“Seandainya itu adalah saran darimu, saya terima. Ya Rasulullah, putri si Fulan itu terkenal akan kecantikan dan kesholihannya, dan hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran dari siapapun.
“Katakanlah aku yang mengutusmu”, sahut Baginda Nabi.
“Baiklah ya Rasul”, dan Zulebid segera bergegas bersiap dan pergi ke rumah si Fulan.
Sesampai di rumah Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh Fulan
“Ada keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah saya?” Tanya Fulan.
“Rasulullah saw yang mengutus saya ke sini, saya hendak meminang putrimu si A.” Jawab Zulebid sedikit gugup.
“Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya tanyakan dulu kepada putriku.” Fulan menemui putrinya dan bertanya, “bagaimana pendapatmu wahai putriku?”
Jawab putrinya, “Ayah, jika memang ia datang karena diutus oleh Rasulullah saw, maka terimalah lamarannya, dan aku akan ikhlas menjadi istrinya.”
Akhirnya pagi itu juga, pernikahan diselenggarakan dengan sederhana. Zulebid kemudian memboyong istrinya ke rumahnya.
Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata,” duhai Anda yang di wajahnya terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini yang engkau idamkan selama ini? Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi suamimu?”
Jawab istrinya, ” Engkau adalah lelaki pilihan rasul yang datang meminangku. Tentu Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada kebahagiaan selain menanti tibanya malam yang dinantikan para pengantin.”
Zulebid tersenyum. Dipandanginya wajah indah itu ketika kemudian terdengar pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid, panggilan berjihad dalam perang.
Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui istrinya.
“Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke relung batinku, demikian besar tumbuhnya cintaku kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad melebihi semua kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu sebelum keberangkatanku ke medan perang.
Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan hidup kita ini.”
Istrinya menyahut, “Pergilah suamiku, betapa besar pula bertumbuhnya kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu. Doa dan ridhoku menyertaimu”
***
Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim menuju ke medan perang. Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga beberapa orang musuh pun tewas ditangannya. Ia bertarung merangsek terus maju sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhid…ketika sebuah anak panah dari arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap tepat di dadanya. Zulebid terjatuh, berusaha menghindari anak panah lainnya yang berseliweran di udara. Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tak beraturan, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari tangannya. Sambil bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa panggilan Allah sudah begitu dekat. Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu dikasihinya. Teringat akan masa kecilnya bersama-sama saudaranya. Berlari-larian bersama t! eman sepermainannya. Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu dihormati, dijunjung dan dikaguminya. Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya. Istrinya yang baru dinikahinya pagi tadi. Senyum
yang begitu manis menyertainya tatkala ia berpamitan. Wajah cantik itu demikian sejuk memandangnya sambil mendoakannya. Detik demi detik, syahadat pun terucapkan dari bibir Zulebid. Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum menghiasinya….Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur sebagai syuhada.
***
Senja datang
Angin mendesau, sepi…
Pasir-pasir beterbangan…
Berputar-putar…
Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang gugur dalam perang. Di antara para mujahid tersebut terdapatlah tubuh Zulebid yang tengah bersandar di tumpukan mayat musuh. Akhirnya dikuburkanlah jenazah zulebid di suatu tempat. Berdampingan dengan para syuhada lain.
Tanpa dimandikan…
Tanpa dikafankan…
Tanah terakhir ditutupkan ke atas makam Zulebid.
Rasulullah terpekur di samping pusara tersebut.
Para sahabat terdiam membisu.
Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti menahan isak tangis. Air mata berlinang di dari pelupuk mata beliau. Lalu beberapa waktu kemudian beliau seolah-olah menengadah ke atas sambil tersenyum. Wajah beliau berubah menjadi cerah. Belum hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan pandangannya ke samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah pandangan mata beliau.
Akhirnya keadaan kembali seperti semula.
Para shahabat lalu bertanya-tanya, ada apa dengan Rasulullah.
“Wahai Rasulullah, mengapa di pusara Zulebid engkau menangis?”
Jawab Rasul, “Aku menangis karena mengingat Zulebid. Oo..Zulebid, pagi tadi engaku datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini juga. Ini hari bahagia. Seharusnya saat ini Engkau sedang menantikan malam Zafaf, malam yang ditunggu oleh para pengantin.”
“Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?” Tanya sahabat lagi.
” Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan udara menjadi wangi semerbak dan aku tersenyum karena mereka datang hendak menjemput Zulebid,” Jawab Rasulullah.
“Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandangannya dan menoleh ke samping?” Tanya mereka lagi.
“Aku mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking banyaknya bidadari yang menjemput Zulebid, beberapa diantaranya berebut memegangi tangan dan kaki Zulebid. Hingga dari salah satu gaun dari bidadari tersebut ada yang sedikit tersingkap betisnya….”
***
Di rumah, istri Zulebid menanti sang suami yang tak kunjung kembali. Ketika terdengar kabar suaminya telah menghadap sang ilahi Rabbi, Pencipta segala Maha Karya.
Malam menjelang…
Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi dan dan nyata.
Lamat-lamat ia seperti melihat Zulebid datang dari kejauhan. Tersenyum, namun wajahnya menyiratkan kesedihan pula.
Terdengar Zulebid berkata, “Istriku, aku baik-baik saja. Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari sejatiku. Semua bidadari disini apabila aku menyebut namamu akan menggumamkan cemburu padamu…. “
Dan kan kubiarkan engkau yang tercantik di hatiku.
Istri Zulebid, terdiam.
Matanya basah…
Ada sesuatu yang menggenang disana..
Seperti tak lepas ia mengingat acara pernikahan tadi pagi..
Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir..
Ia menggerakkan bibirnya..
“Suamiku, aku mencintaimu…
Dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita..
Aku ikhlas….
Minggu, 05 Februari 2012
ANA UHIBBUKI FILLAH....
Bismillahirrahmanirrahim
Sifat manusia ingin menyayangi serta disayangi. Itulah naluri fitrah yang dikurniakan Allah. Sudah menjadi lumrah, sesuatu yang fitrah boleh bertukar menjadi fitnah andai tiada pengawasan dan penjagaan yang sempurna berdasarkan apa yang dilandaskan oleh Pencipta segala fitrah.
Andai fitrah menjadi fitnah, maka secara tidak langsung perbuatan itu sudah tidak lagi menjadi suatu ibadah lantaran Tuhan tidak lagi dijadikan matlamat utama.
Fitrah yang ingin saya highlightkan disini adalah fitrah ‘Persahabatan’. Sahabat/rakan/kenalan/
Bagaimana konsep fitrah ‘persahabatan’ ini boleh bertukar menjadi fitnah?
Apabila seseorang itu terlalu mengagung-agungkan sahabat yang disukainya sehingga seandainya ada kelemahan pada saudaranya itu tidak mahu menegur dan tetap mengatakan ianya tidak salah,
apabila pemergiannya diratapi seolah-olah tidak dapat menerima takdir yang memisahkan mereka berdua,
apabila diri sanggup berjanji untuk sehidup dan semati walaupun terpaksa mengorbankan tanggungjawab yang menjadi kepentingan sedangkan tiada siapa tahu bila dirinya akan mati,
apabila diri sanggup membenarkan segala yang diungkapkan oleh sahabat kesayangannya sungguhpun apa yang dikatakan tidak benar semata-mata ingin menjaga hati dan perasaan..kononnya menjaga persahabatan..
apabila diri mempergunakan sahabat untuk kepentingan peribadi, seolah-olah sebagai alat permainan yang rendah harga diri..serta bermacam-macam lagi.
Nilai persahabatan tidak terletak semata-mata kepada kedudukan material,pangkat, darjat, mahupun kata-kata indah ‘retorik’ seperti “aku sayang kamu sahabat..” , ” aku cintakan kamu kerana Allah sahabat..”. Tetapi ianya lebih daripada itu.
Ianya datang dari hati yang IKHLAS, berusaha ke arah pelaksanaan dan sejauh mana kita menjadikan ukhuwah itu sebagai pengikat antara kita dengan masyarakat di sekitar, tidak hanya kepada ahli-ahli jemaah sahaja. Dengan erti kata lain, menjadikan diri mudah didampingi dan seterusnya dapat meneruskan kewajipan amar ma’ruf, nahi munkar
Bagaimana kita mengaplikasikan konsep Hablum Min Allah serta Hablum Min An-nas dalam sebuah persahabatan.Yakni tindak-tanduk dan pekerti kita seiring dengan perasaan kasih kepada Allah dalam menghargai insan yang bergelar sahabat.
Mudahkah kita melafazkan kata-kata keramat ‘kasih’, ‘sayang’,'rindu’ dan ‘cinta’? Namun adakah kita benar-benar menghadirkan rasa kasihNya dalam setiap amal perbuatan kita. Sedarlah bahawa perkataan-perkataan ‘keramat’ itu bukanlah sebuah permainan yang begitu murah untuk dilontarkan, tetapi ianya adalah sebuah janji yang perlu ditunaikan.
Besederhanalah dalam persahabatan. Jangan terlampau ‘extreme’ dan ‘excessive’ sehingga wujudnya perasaan ingin mengagung atau memuja.Mahupun terlalu longgar sehingga timbul istilah “Conditional Friendship” – Hubungan yang dibina atas sebab-sebab peribadi, seandainya tidak memenuhi expectation, maka terputuslah hubungan.
Ukhuwah fillah dalam islam bukan seperti yang digambarkan oleh Jack dalam filem Titanic. ‘You jump, I jump..’ ataupun dalam kisah Romeo & Juliet. Sanggup membunuh diri semata-mata kerana ingin bersama orang yang tersayang. Itu bukannya sahabat. Itu kerja gila namanya!
Janganlah semata-mata kerana seseorang, prinsip kita menjadi larut dan cair. Hayatilah sirah baginda junjungan. Lihatlah bagaimana kaum ansar dan muhajirin bersaudara. Konsep persahabatan sebegitu yang perlu diterapkan.
Persahabatan dalam islam semata-mata ingin mengharapkan rahmat Allah. Mereka saling menyayangi dan mendoakan kesejahteraan antara satu sama lain kerana rahmat Allah. Mereka membantu dan menasihati antara satu sama lain kerana rahmat Allah. Mereka bertemu dan berpisah kerana rahmat Allah.
Biarpun jarak memisahkan mereka, namun tiada noktah kasih. Bak kata Ustaz Pahrol Juoi, ‘bertemu tidak jemu, berpisah tidak gelisah..’ Mereka redha di atas segala ketentuan, saat gembira dan duka dikongsi bersama. Seorang yang bersahabat semata-mata kerana ingin mendapatkan keredhaan Allah akan merasa ketenangan dan kemanisan dalam dirinya ketika beribadah. Ini bersesuaian dengan sabda baginda yang mafhumnya berbunyi :
“Tiga perkaram sesiapa yan terdapat ketiga-tiga perkara itu dalam dirinya beliau akan mendapat kemanisan iman: Bahawa Allah dan RasulNya lebih ia kasihi daripada yang lain, bahawa beliau tidak mengasihi seseorang kecuali kerana Allah, bahawa beliau benci kembali kepada kekufuran sebagaimana beliau benci dilontarkan ke dalam neraka”
(riwayat Bukhari)
“mukmin trhadap mukmin yang lain ibarat batu bata binaan yang saling memperkukuhkan antara satu sama lain” (riwayat bukhari)
“tidak ada suatupun yang paling berharga yang dimiliki oleh seseorang insan selepas nikmat Islam,selain teman-teman yang soleh..apabila kamu dapati kewujudan kasih-sayangnya..maka peganglah ia dengan sungguh-sungguh” Saidina Umar r.a
“Kasihilah sesuatu yang kau kasihi dengan seadanya, kerana suatu masa mungkin kau akan membencinya pula..Bencilah sesuatu yang kau musuhi dengan seadanya, kerana suatu masa mungkin engkau akan mencintainya pula..” – dipetik dari kitab Al-Adab Al-Mufrad Imam Bukhari.
Ukhuwah fillah akan tetap kekal selamanya sungguhpun kita dipisahkan oleh dua benua yang berbeza, kerana nilai persahabatan tidak terletak pada apa yang dilihat disisi, tetapi terletak pada apa yang tertanam di hati…biarlah waktu menentukan nilai ukhuwah yang terjalin..semoga bertemu akhirnya di taman Firdausi
maaf aku
maafkan aku Sahabat..
saat kau sedang di uji..
aku hanya mampu menjadi pendengar..
aku hanya mampu menangis
aku hanya mampu menasihat
aku hanya mampu memberimu semangat..
sedang...
aku x mampu membantumu..
aku x mampu berbuat apa-apa pun untukmu..
bukan aku..
x mahu..bukan aku x sudi..
tapi...tanganku ini bagai diikat & digari..
mana bisa aku membantumu..
wahai Sahabatku...
apa yg kumampu...hanyalah
mendoakanmu...pd Tuhan kita..
Ya-Allah...
Kau Maha Mendengar
rintihan hambaMu yg sedang Kau uji
ketika ini..
aku x mampu membantunya ya-Allah..
aku mohon pdMu ya-Allah
Kau ringankanlah penderitaan Sahabatku
Kau bantulah dia..menjadi manusia tabah
dengan ujianMu..
Kau dengarlah permohonannya
Kau berilah kekuatan pdnya
agar dia bisa bangun semula
meniti hari-hari depan
dengan penuh ketabahan
Kau lindungilah dia dr segala
kesulitan &
Kau selamatkanlah dia dr
manusia-manusia yg bisa memudaratkan dirinya..
Kau bantulah setiap kesusahan dirinya..
Kau tunjukkan pdNya
setiap apa yg Kau uji pd dirinya
adalah bukti kasih sayangMu pdnya...
Sahabatku...
biar apa pun ujian yg menimpamu
ingatlah..
itu tanda kasih sayang Allah pd hambaNya..
kau bertuah Sahabatku..
kerana Allah memilihmu
menjalani ujianNya..
walau seperit mana pun dugaan itu..
ingatlah pdNya selalu..
kerana Allah tidak pernah membiarkanmu..sendirian
setiap ujian itu, mengikut kemampuanmu..
****************************** ********
Hanya inilah bentuk bantuan
yg mampu kuhulurkan pdmu Sahabat
di saat tanganku kuat terikat...
dan...
tangan yg terikat inilah
yg mampu ku tadah pdMu ya-Robb
buat Sahabatku....♥♥♥
Semoga hidupmu kembali tenang..
setenang air di tasik..
setenang langit nan membiru....
setenang senyumanmu....~~
Kamis, 02 Februari 2012
WANITA SHALIHAH
Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh,
SUNGGUH sangat beruntung bagi wanita shalihah di dunia ini. Ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan berperan melahirkan generasi dambaan. Kalau pun ia wafat, maka Allah akan menjadikannya bidadari di akhirat nanti. Oleh karena itu, para pemuda jangan sampai salah memilih pasangan hidup. Pilihlah wanita shalihah untuk dijadikan istri dan pendamping hidup setia.
Siti Khadijah r.a. adalah figur seorang istri shalihah yang menjadi penentram batin, pendukung setia, dan penguat semangat suami dalam berjuang dan beribadah kepada Allah SWT. Beliau telah berkorban dengan harta, kedudukan, dan diri beliau demi membela perjuangan Rasulullah Saw. Begitu kuatnya kesan keshalihahan Khadijah r.a., hingga nama beliau banyak disebut-sebut oleh Rasul walau beliau sendiri sudah meninggal.
Allah berfirman dalam QS. An Nuur ayat 30-31, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara farji (kemaluan) - nya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara farji- nya dan janganlah mereka menampakkan perhiasan kecuali yang biasa nampak dari padanya.
Rasulullah Saw. bersabda : Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah. (HR. Muslim).
Ciri khas seorang wanita shalihah adalah ia mampu menjaga pandangannya. Ciri lainnya, dia senantiasa taat kepada Allah dan Rasul Nya. Make up- nya adalah basuhan air wudhu. Lipstiknya adalah memperbanyak dzikir kepada Allah di mana pun berada. Celak matanya adalah memperbanyak bacaan Al Quran. Jika seorang muslimah menghiasi dirinya dengan perilaku takwa, akan terpancar cahaya keshalihahan dari dirinya.
Wanita shalihah tidak mau kekayaan termahalnya berupa iman akan rontok. Dia juga sangat memperhatikan kualitas kata-katanya. Tidak ada dalam sejarahnya seorang wanita shalihah centil, suka jingkrak-jingkrak, dan menjerit-jerit saat mendapatkan sesuatu kesenangan. Ia akan sangat menjaga setiap tutur katanya agar bernilai bagaikan untaian intan yang penuh makna dan bermutu tinggi. Dia sadar betul bahwa kemuliaannya justru bersumber dari kemampuannya menjaga diri (iffah).
Wanita shalihah itu murah senyum, karena senyum sendiri adalah shadaqah. Namun, tentu saja senyumnya proporsional. Tidak setiap laki-laki yang dijumpainya diberikan senyuman manis. Intinya, senyumnya adalah senyum ibadah yang ikhlas dan tidak menimbulkan fitnah bagi orang lain. Bisa dibayangkan jika kaum wanita kerja keras berlatih senyum manis semata untuk meluluhkan hati laki-laki.
Wanita shalihah juga harus pintar dalam bergaul dengan siapapun. Dengan pergaulan itu ilmunya akan terus bertambah, sebab ia akan selalu mengambil hikmah dari orang-orang yang ia temui. Kedekatannya kepada Allah semakin baik sehingga hal itu berbuah kebaikan bagi dirinya maupun orang lain. Pendek kata, hubungan kemanusiaan dan taqarrub kepada Allah dilakukan dengan sebaik mungkin.
Ia juga selalu menjaga akhlaknya. Salah satu ciri bahwa imannya kuat adalah dari kemampuannya memelihara rasa malu. Dengan adanya rasa malu, segala tutur kata dan tindak tanduknya akan selalu terkontrol. Tidak akan ia berbuat sesuatu yang menyimpang dari bimbingan Al Quran dan As Sunnah. Dan tentu saja godaan setan bagi dirinya akan sangat kuat. Jika ia tidak mampu melawan godaan tersebut, maka bisa jadi kualitas imannya berkurang. Semakin kurang iman seseorang, maka makin kurang rasa malunya. Semakin kurang rasa malunya, maka makin buruk kualitas akhlaknya.
Pada prinsipnya, wanita shalihah itu adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Rambu-rambu kemuliaannya bukan dari beraneka aksesoris yang ia gunakan. Justru ia selalu menjaga kecantikan dirinya agar tidak menjadi fitnah bagi orang lain. Kecantikan satu saat bisa jadi anugerah yang bernilai . Tapi jika tidak hati-hati, kecantikan bisa jadi sumber masalah yang akan menyulitkan pemiliknya sendiri.
Saat mendapat keterbatasan fisik pada dirinya, wanita shalihah tidak akan pernah merasa kecewa dan sakit hati. Ia yakin bahwa kekecewaan adalah bagian dari sikap kufur nikmat. Dia tidak akan merasa minder dengan keterbatasannya. Pribadinya begitu indah sehingga make up apa pun yang dipakainya akan memancarkan cahaya kemuliaan. Bahkan, kalaupun ia polos tanpa make up sedikit pun, kecantikan jiwanya akan tetap terpancar dan menyejukan hati tiap-tiap orang di sekitarnya. Karena ia yakin betul bahwa Allah tidak akan pernah meleset memberikan karunia kepada hamba-Nya. Makin ia menjaga kehormatan diri dan keluarganya, maka Allah akan memberikan karunia terbaik baginya di dunia dan di akhirat.
Jika ingin menjadi wanita shalihah, maka banyak-banyaklah belajar dari lingkungan sekitar dan orang-orang yang kita temui. Ambil ilmunya dari mereka. Bahkan kita bisa mencontoh istri-istri Rasulullah Saw. Seperti Siti Aisyah yang terkenal dengan kecerdasannya dalam berbagai bidang ilmu. Ia terkenal dengan kekuatan pikirannya. Seorang istri seperti beliau adalah seorang istri yang bisa dijadikan gudang ilmu bagi suami dan anak-anak.
Bisa jadi wanita shalihah itu muncul dari sebab keturunan. Bila kita melihat seorang pelajar yang baik akhlaknya dan tutur katanya senantiasa sopan, maka dalam bayangan kita tergambar diri seorang ibu yang telah mendidik dan membimbing anaknya menjadi manusia yang berakhlak. Sulit membayangkan, seorang wanita shalihah ujug-ujug muncul tanpa didahului sebuah proses yang memakan waktu. Disini faktor keturunan memainkan peran. Begitu pun dengan pola pendidikan, lingkungan, keteladanan dan lain-lain. Apa yang nampak, bisa menjadi gambaran bagi sesuatu yang tersembunyi.
Banyak wanita bisa sukses. Namun tidak semua bisa shalihah. Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan yang Allah pimpinkan. Dan aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja berlaku bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri yang berumah tangga. Tidak akan rugi jika seorang remaja putri menjaga sikapnya saat mereka berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Bertemanlah dengan orang-orang yang akan menambah kualitas ilmu, amal dan ibadah kita. Ada sebuah ungkapan mengatakan, Jika kita ingin mengenal pribadi seseorang maka lihatlah teman-teman di sekelilingnya. Usahakanlah kita mampu memberikan warna yang baik bagi orang lain, bukan sebaliknya malah kita yang diwarnai oleh pengaruh buruk orang lain.
Jika para wanita muda mampu menjaga diri dan memelihara akhlaknya, maka iman kaum laki-laki akan semakin kuat. Cahaya keshalihahan wanita mukminah akan menjadi penyejuk sekaligus peneguh hati orang-orang beriman. Apalagi bagi kaum muda yang sangat rentan dari godaan syahwat. Mereka harus dibantu dalam melawan godaan-godaan.
Peran wanita shalihah sangat besar dalam keluarga dan bahkan negara. Kita pernah mendengar, bahwa di belakang seorang pemimpin yang sukses ada seorang wanita yang sangat hebat. Jika wanita shalihah ada di belakang para lelaki di dunia ini, maka bisa dibayangkan, berapa banyak kesuksesan yang akan diraih. Selama ini wanita hanya ditempatkan sebagai pelengkap saja, yaitu hanya mendukung dari belakang, tanpa peran tertentu yang serius. Dalam sebuah keterangan diyatakan bahwa bejatnya akhlak wanita bisa menyebabkan hancurnya sebuah negara. Bukankah wanita itu adalah negara? Bayangkanlah, jika tiang-tiang penopang bangunan itu rapuh, maka sudah pasti bangunannya akan roboh dan rata dengan tanah, sehingga tidak akan ada lagi yang tersisa kecuali puing-puing yang nilainya tidak seberapa.
Jadi kita tinggal memilih, apakah akan menjadi tiang yang kuat atau tiang yang rapuh? Jika ingin menjadi tiang yang kuat, kaum wanita harus terus berusaha menjadi wanita shalihah dengan mencontoh pribadi istri-istri Rasulullah. Dengan terus berusaha menjaga kehormatan diri dan keluarga serta memelihara farji-nya, maka pesona wanita shalihah akan melekat pada diri kaum wanita kita.
SALAM UKHUWAH...
DOA ISTERI SHOLEHAH
Ya Allah..
...
Kau ampunilah dosa ku yang telah kuperbuat
Kau limpahkanlah aku dengan kesabaran yang tiada terbatas
Kau berikanlah aku kekuatan mental
Kau kurniakanlah aku dengan sifat keredahan
Kau peliharalah lidahku dari kata-kata nista
Kau kuatkanlah semangatku menempuhi segala cabaran Mu
Kau berikanlah aku sifat kasih sesama insan
Ya Allah…
Sekiranya suamiku ini adalah pilihan Mu di Arash
Berilah aku kekuatan dan keyakinan untuk terus bersamanya
Sekiranya suamiku ini adalah suami yang akan membimbing tanganku dititianMu
Kurniakanlah aku sifat kasih dan redha atas segala perbuatannya
Sekiranya suami ku ini adalah bidadara untuk ku di Jannah Mu
Limpahkanlah aku dengan sifat tunduk dan tawaduk akan segala perintahnya
Sekiranya suami ku ini adalah yang terbaik untukku di Dunia Mu
Peliharalah tingkah laku serta kata-kataku dari menyakiti perasaannya
Sekiranya suami ku ini jodoh yang dirahmati oleh Mu
Berilah aku kesabaran untuk menghadapi segala kerenah dan ragamnya
Tetapi ya Allah…Sekiranya suami ku ini ditakdirkan bukan untuk diriku seorang
Kau tunjukkanlah aku jalan yang terbaik untuk aku harungi segala dugaanMu
Sekiranya suami ku tergoda dengan keindahan dunia Mu
Limpahkanlah aku kesabaran untuk terus membimbingnya
Sekiranya suamiku tunduk terhadap nafsu yang melalaikan
Kurniakanlah aku kekuatan Mu untuk aku memperbetulkan keadaanya
Sekiranya suamiku menyintai kesesatan
Kau pandulah aku untuk menarik dirinya keluar dari terus terlena
Ya Allah…Kau yang Maha Mengetahui apa yangterbaik untukku
Kau juga yang Maha Mengampuni segala kesilapan dan keterlanjuranku
Sekiranya aku tersilap berbuat keputusanBimbinglah aku ke jalan yang Engkau redhai
Sekiranya aku lalai dalam tanggungjawabku sebagai isteri
Kau hukumlah aku didunia tetapi bukan diakhirat Mu
Sekiranya aku ingkar dan durhaka
Berikanlah aku petunjuk kearah rahmatMu
Ya Allah…Sesungguhnya aku lemah tanpa petunjukMu
Aku buta tanpa bimbingan MuAku cacat tanpa hidayah Mu
Aku hina tanpa Rahmat Mu
Ya Allah…Kuatkan hati dan semangatku
Tabahkan aku menghadapi segala cobaanMu
Jadikanlah aku isteri yang disenangi suami
Bukakanlah hatiku untuk menghayati agama Mu
Bimbinglah aku menjadi isteri Sholehah
Hanya pada Mu,
Ya Allah…
Ku pohon segala harapan
Kerana aku pasrah dengan dugaan Mu
Kerana aku sedar hinanya aku
Kerana aku insan lemah yang kerap keliru
Kerana aku leka dengan keindahan duniaMu
Kerana kurang kesabaran ku menghadapi cabaran Mu
Kerana pendek akal ku mengharungi ujian Mu
Ya Allah Tuhanku…….
Aku hanya ingin menjadi isteri yang dirahmati
Isteri yang dikasihi
Isteri yang solehah
Isteri yang sentiasa dihati
Amin Allahumma Aamiin Ya Robbal'Alamiin
salam ukhuwah..
Langganan:
Postingan (Atom)