Kamis, 02 Februari 2012

Indahnya Kelembutan Hati seorang Suami Terhadap Istrinya ♥

Dalam kelembutan dan kesabaran terhadap istri terdapat bentuk olah raga bagi jiwa,pereda kemarahan serta pembagus akhlak.
Sebab orang yang sendirian tidak akan dapat menguji kesiapan dirinya untuk bersabar dan tidak pula dapat menyingkap aib-aib dirinya.
Karena itu,tidak akan menjadi keburukan bagi peniti jalan akhirat untuk bers...ikap terbuka menghadapi sebagian aib-aib ini.
Sebab,dengan kesabaran yang ada pada dirinya ia belajar menagtur, menentukan strategi yang baik,serta mampu menghadapi berbagai macam keadaan.
Sehingga jiwanya akan menjadi terlatih dan jernih.
Semua ini mamfaat pernikahan...

Meski seorang suami bersikap murah hati terhadap istrinya ,bukan berarti ia membebaskan istrinya dalam keburukan.
Kemudian sang suami berkata,''Aku hanya akan terus bersabar.''

Bukan! bukan ini yang dimaksud.Tapi,hendaknya suami mengajarkan kepadanya dengan penuh kelembutan dan ketenangan.

Janganlah menghadapi keburukan dengan keburukan.
Ketika istri dalam keadaan emosi,jangan menghadapinya dengan emosi pula.
Namun,hendaknya bersikap sabar dan bertindak pelan-pelan .Ketika kesedihan dan emosinya hilang,barulah nasehati ia bagaimana cara bersikap.
Nasehatilah dengan bijak dan penuh ketenangan...

Dalam momen-momen semacam ini,janganlah bersikap kasar dan menjatuhkan hukuman.Tegurlah dengan lembut,apabila hal ini dilakukan ,insya Allah akan terwujud hasil yang positif,sebab sikap ini telah teruji.

Laki-laki itu lebih bijak dan lebih mengedepankan pikirannya.
Oleh karena itu,ia bertanggungjawab mengarahkan siapa saja yang menjadi tanggungjawabnya dengan penuh kebijaksanaan dan kelembutan.
Ia juga harus memberikan petunjuk dan arahan yang baik pada saat-saat yang tepat,sebab tidak semua waktu itu tepat,khususnya waktu-waktu terjadi pertengkaran...

Alangkah indahnya arahan nabawi yang menjadikan rumah tangga sebagai syurga yang diliputi kedamaian dan memberikan jaminan akan langgengnya kehidupan rumah tangga...
Apabila salah satu pasangan suami istri marah,hendaknya yang lain bersikap murah hati.Sebab kondisi marah itu seperti kondisi orang mabuk,ia tidak tahu apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan,karena ia telah dikuasai oleh setan.
Untuk itu,janganlah menjadi penolong bagi [setan] dengan kemarahan yang serupa.

Semoga bermamfaat...jadi renungan?

Jika Kau Menjadi Istriku Nanti~~))

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh...

Jika seorang lelaki ingin menarik hati seorang wanita, biasanya yang ditebarkan adalah berjuta-juta kata puitis bin manis, penuh janji-janji untuk memikat hati, “Jika kau menjadi istriku nanti, percayalah aku satu-satunya yang bisa membahagiakanmu,” atau “Jika kau menjadi istriku nanti, hanya dirimu di hatiku” dan “bla…bla…bla…” Sang wanita pun tersipu malu, hidungnya kembang kempis, sambil menundukkan kepala, “Aih…aih…, abang bisa aja.” Onde mande, rancak bana !!!

Lidah yang biasanya kelu untuk berbicara saat bertemu gebetan, tiba-tiba jadi luwes, kadang dibumbui ‘ancaman’ hanya karena keinginan untuk mendapatkan doi seorang. Kalo ada yang coba-coba main mata ama si doi, “Jangan macem-macem lu, gue punya nih!” Amboi… belum dinikahi kok udah ngaku-ngaku miliknya dia ya? Lha, yang udah nikah aja ngerti kalo pasangannya itu sebenarnya milik Allah SWT.

Emang iya sih, wanita biasanya lebih terpikat dengan lelaki yang bisa menyakinkan dirinya apabila ntar udah menikah bakal selalu sayang hingga ujung waktu, serta bisa membimbingnya kelak kepada keridhoan Allah SWT. Bukan lelaki yang janji-janji mulu, tanpa berbuat yang nyata, atau lelaki yang gak berani mengajaknya menikah dengan 1001 alasan yang di buat-buat.

Kalo lelaki yang datang serta mengucapkan janjinya itu adalah seseorang yang emang kita kenal taat ibadah, akhlak serta budi pekertinya laksana Rasulullah SAW atau Ali bin Abi Thalib r.a., ini sih gak perlu ditunda jawabannya, cepet-cepet kepala dianggukkan, daripada diambil orang lain, iya gak? Namun realita yang terjadi, terkadang yang datang itu justru tipe seperti Ramli, Si Raja Chatting, atau malah Arjuna, Si Pencari Cinta, yang hanya mengumbar janji-janji palsu, lalu bagaimana sang wanita bisa percaya dan yakin dengan janjinya?

Nah…

Berarti masalahnya adalah bagaimana cara kita menjelaskan calon pasangan untuk percaya dengan kita? Pusying… pusying… gimana caranya ya? Ih nyantai aja, semua itu telah diatur dalam syariat Islam kok, karena caranya bisa dengan proses ta’aruf. Apa sih yang harus dilakukan dalam ta’aruf? Apa iya, seperti ucapan janji-janji seperti diatas?

Ta’aruf sering diartikan ‘perkenalan’, kalau dihubungkan dengan pernikahan maka ta’aruf adalah proses saling mengenal antara calon laki-laki dan perempuan sebelum proses khitbah dan pernikahan. Karena itu perbincangan dalam ta’aruf menjadi sesuatu yang penting sebelum melangkah ke proses berikutnya. Pada tahapan ini setiap calon pasangan dapat saling mengukur diri, cocok gak ya dengan dirinya. Lalu, apa aja sih yang mesti diungkapkan kepada sang calon saat ta’aruf?

1. Keadaan Keluarga

Jelasin ke calon pasangan tentang anggota keluarga masing-masing, berapa jumlah sodara, anak keberapa, gimana tingkat pendidikan, pekerjaan, dll. Bukan apa-apa, siapa tahu dapat calon suami yang anak tunggal, bokap ama nyokap kaya 7 turunan, sholat dan ibadahnya bagus banget, guanteng abis, lagi kuliah di Jepang (ehm), pokoknya selangit deh! Kalo ketemu tipe begini, sebelum dia atau mediatornya selesai ngomong langsung kasih kode, panggil ortu ke dalam bentar, lalu bilang “Abi, boljug tuh kaya’ ginian jangan dianggurin nih. Moga-moga gak lama lagi langsung dikhitbah ya Bi, kan bisa diajak ke Jepang!” Lho?

2. Harapan dan Prinsip Hidup

Warna kehidupan kelak ditentukan dengan visi misi suatu keluarga lho, terutama sang suami karena ia adalah qowwan dalam suatu keluarga. Sebagai pemimpin ia laksana nahkoda sebuah bahtera, mau jalannya lempeng atau sradak-sruduk, itu adalah kemahirannya dalam memegang kemudi. Karena itu setiap calon pasangan kudu tau harapan dan prinsip hidup masing-masing. Misalnya nih, “Jika kau menjadi istriku nanti, harapanku semoga kita semakin dekat kepada Allah” atau “Jika kau menjadi istriku nanti, mari bersama mewujudkan keluarga sakinah, rahmah, mawaddah.” Kalo harapan dan janjinya seperti ini, kudu’ diterima tuh, insya Allah janjinya disaksikan Allah SWT dan para malaikat. Jadi kalo suatu saat dia gak nepatin janji, tinggal didoakan, “Ya Allah… suamiku omdo nih, janjinya gak ditepatin, coba deh sekali-kali dianya…,” hush…! Gak boleh doakan suami yang gak baik lho, siapa tahu ia-nya khilaf kan?

3. Kesukaan dan Yang Tidak Disukai

Dari awal sebaiknya dijelasin apa yang disukai, atau apa yang kurang disukai, jadinya nanti pada saat telah menjalani kehidupan rumah tangga bisa saling memahami, karena toh udah dijelaskan dari awalnya. Dalam pelayaran bahtera rumah tangga butuh saling pengertian, contoh sederhananya, istri yang suka masakan pedas sekali-kali masaknya jangan terlalu pedas, karena suaminya kurang suka. Suami yang emang hobinya berantakin rumah (karena lama jadi bujangan), setelah menikah mungkin bisa belajar lebih rapi, dll. Semua ini menjadi lebih mudah dilakukan karena telah dijelaskan saat ta’aruf. Namun harus diingat, menikah itu bukan untuk merubah pasangan lho, namun juga lantas bukan bersikap seolah-olah belum menikah. Perubahan sikap dan kepribadian dalam tingkat tertentu wajar aja-kan? Dan juga hendaknya perubahan yang terjadi adalah natural, tidak saling memaksa.

4. Ketakwaan Calon Pasangan

Apa yang terpenting pada saat ta’aruf? Yang mestinya menduduki prioritas tertinggi adalah bagaimana nilai ketakwaan lelaki tersebut. Ketakwaan disini adalah ketaatan kepada Allah SWT lho, bukan nilai ‘KETAKutan WAlimahAN’ Karena apabila seorang lelaki senang, ia akan menghormati istrinya, dan jika ia tidak menyenanginya, ia tidak suka berbuat zalim kepadanya. Gimana dong caranya untuk melihat lelaki itu bertakwa atau tidak? Tanyakan kepada orang-orang yang dekat dengan dirinya, misalnya kerabat dekat, tetangga dekat, atau sahabatnya tentang ketaatannya menjalankan ketentuan pokok yang menjadi rukun Iman dan Islam dengan benar. Misalnya tentang sholat 5 waktu, puasa Ramadhan, atau pula gimana sikapnya kepada tetangga atau orang yang lebih tua, dan lain-lain. Apalagi bila lelaki itu juga rajin melakukan ibadah sunnah, wah… yang begini ini nih, ‘calon suami kesayangan Allah dan mertua.’

Inget lho, ta’aruf hanyalah proses mengenal, belum ada ikatan untuk kelak pasti akan menikah, kecuali kalau sudah masuk proses yang namanya khitbah. Nah kadang jadi ‘penyakit’ nih, karena alasan “Kan masih mau ta’aruf dulu…” lalu ta’rufnya buanyak buanget, sana-sini dita’arufin. Abis itu jadi bingung sendiri, “Yang mana ya yang mau diajak nikah, kok sana-sini ada kurangnya?”

Wah…, kalo nyari yang mulia seperti Khadijah, setaqwa Aisyah atau setabah Fatimah Az-Zahra, pertanyaannya apakah diri ini pun sesempurna Rasulullah SAW atau sesholeh Ali bin Abi Thalib r.a.? Nah lho…!!!

Apabila hukum pernikahan seorang laki-laki telah masuk kategori wajib, dan segalanya pun telah terencana dengan matang dan baik, maka ingatlah kata-kata bijak, ‘jika berani menyelam ke dasar laut mengapa terus bermain di kubangan, kalau siap berperang mengapa cuma bermimpi menjadi pahlawan?’

Ya akhi wa ukhti fillah,

Semoga antum segera dipertemukan dengan pasangan hidup, dikumpulkan dalam kebaikan, kebahagiaan, kemesraan, canda tawa yang tak putus-putusnya mengisi rongga kehidupan rumah tangga. Kalaupun nanti ada air mata yang menetes, semoga itu adalah air mata kebahagiaan, tanda kesyukuran kepada Allah SWT karena Ia telah memberikan pasangan hidup yang selalu bersama mengharap keridhoan-Nya, aamiin allahumma aamiin.

Barakallahulaka barakallahu’alaika wajama’a bainakuma fii khairin.

Wallahu a’lam bishowab,

Surat Cinta Untuk Saudariku

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh...

Tulisan ini bermula dari rasa gembiraku ketika seorang yang biasa kupanggil adek mulai bersemangat memakai kaus kaki untuk menutupi aurat, sebagaimana halnya rasa gembira ketika dulu dia bercerita tentang jilbab yang tebal dan juga tentang rok.

“Mmm… yang dulu suka panjat tali sekarang mulai demen sama rok…”

Semoga niatan ini bukan api yang membara di awal lalu kemudian padam. Semoga dengan tekad yang kuat dan kesungguhan, Allah memudahkan untuk istiqomah dan terus memperbaiki diri.

Saudariku,
Sungguh nikmat yang besar, Allah telah menjadikan kita bersaudara di atas ikatan iman.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai saudara yang saling menyayangi di atas ikatan tersebut.

Saudara yang menghendaki kebaikan satu sama lainnya.

Saudara yang tidak menginginkan ada keburukan pada satu sama lainnya.

Bersama rasa cintaku aku membuat tulisan ini…
Semoga Allah mendatangkan manfaat, menjadikannya bekal untuk dunia dan simpanan untuk akhirat.

Saudariku,
Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Robb yang telah menciptakan kita dari setetes mani,
Robb yang juga telah menciptakan ibu kita, bapak kita, dan orang-orang yang kita sayangi,
Robb yang telah memberi rizki pada kita sampai kita sebesar ini,
Robb yang telah memberi hidayah Islam -sebuah nikmat yang sangat besar yang tidak ada nikmat yang lebih besar dari nikmat ini-
Robb yang telah memberi kita banyak sekali nikmat,
Robb yang telah menjanjikan surga bagi hamba-Nya yang taat,
Robb yang juga telah mengancam dengan neraka bagi yang enggan untuk taat,
Robb yang janji-Nya haq, yang tidak pernah menyalahi janji,
Sesungguhnya Dia Subhanahu wa Ta’ala telah mensyariatkan kepada para muslimah untuk menutup tubuh mereka dengan jilbab.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 59 yang artinya,

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda yang artinya,

“Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakaian namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat punuk unta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka itu adalah kaum wanita yang terkutuk.”

Di dalam hadis lain terdapat tambahan:

“Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan memperoleh baunya, padahal baunya surga itu dapat dicium dari perjalanan (jarak) sekian dan sekian.” (Dikeluarkan oleh At-Thabrani dalam Al-Mu’jam As-Shaghir hal. 232, dari hadits Ibnu Amru dengan sanad shahih. Sedangkan hadits yang lain tersebut dikeluarkan oleh muslim dari riwayat Abu Hurairah)

Saudariku,
Masih akrab dalam pandangan kita, saudari-saudari kita keluar rumah dengan membuka auratnya. Beberapa diantaranya sangat “memperhatikan” penampilannya.
Mulai dari merk baju yang berkelas, model yang up to date,
Bahkan diantaranya kita lihat baju yang sempit dan serba pendek,
celana yang juga serba pas-pasan,
rambut direbounding,
alis yang “dirapikan”,
lipstik tipis warna pink,
minyak wangi yang mmmm…
*mungkin karena belum tahu*

Saudariku,
Apa yang kita dapat dari semua ini?
“cantik”?
“aduhai”?
“modis”?
“gaul”?
“tidak ketinggalan jaman”?
atau mungkin sekedar untuk bisa percaya diri ketika keluar rumah dan berhadapan dengan orang-orang?

Memang banyak yang akan melihat “WAH” pada wanita yang berpenampilan seperti ini sehingga menyebabkan beberapa di antara kita tertipu dan bahkan berlomba untuk menjadi yang “terhebat” dalam masalah ini.

Tetapi saudariku,
Saya ingin mengajak kita untuk menjadi seorang muslimah yang sejati!
Tidak perlu kita tiru mereka yang berbangga diri dengan apa yang mereka pamerkan dari tubuh dan kecantikan mereka.
Tidak perlu kita tiru mereka yang berbangga diri dengan merk yang ada pada baju-baju mereka.
Sungguh! Kain sepuluh ribu per meter dari Pasar Bering lebih mulia jika kita memakainya dalam rangka ketaatan pada Allah,
Robb yang telah menciptakan kita,
Robb yang telah mensyariatkan jilbab untuk kita.
Duhai…
Pakaian mana yang lebih mulia dari pakaian ketaqwaan?

Adalah nikmat yang besar ketika kita masuk Islam.
Seseorang dinilai bukan lagi dari tulisan (baca: merk) apa yang tertempel di bajunya, atau dari seberapa mancung hidungnya, seberapa cantik wajahnya, seberapa elok parasnya, seberapa anggun bersoleknya.
Tapi seseorang dinilai dari apa yang ada dalam hatinya, apa yang diucap oleh lisannya, dan apa yang diperbuat oleh badannya.
Ya!
Seseorang dinilai dari ketaqwaannya.
Jadi tidak perlu lagi kita bersibuk-sibuk untuk pamerkan kebolehan tubuh dan kecantikan.

Saudariku,
Tidakkah kita melihat jajanan yang ada di emperan?
Terbungkus dengan ala kadarnya,
semua orang bisa menjamahnya,
atau bahkan mencicipinya.
Bahkan seringkali yang mencicipi adalah orang iseng yang tidak benar-benar bermaksud untuk membeli. Setelah mencicipinya, dia letakkan kembali kemudian dia tinggal pergi.
Bukan hanya orang iseng, bahkan lalat-lalat pun mengerumuninya.
Berbeda dengan makanan berkualitas yang terbungkus rapi dan tersegel.
Terjaga dan tidak tersentuh tangan-tangan iseng.

Di antara keduanya, kita lebih memilih yang mana?
Tentu yang kedua.
Jika untuk makanan saja demikian, maka lebih-lebih lagi kita memilih untuk diri kita sendiri.

Saudariku,
Demikian juga keadaannya seorang lelaki yang baik-baik.
Dia akan memilih wanita yang menjaga kehormatannya,
yang kecantikannya tidak dia pamerkan.
Tidak dia biarkan dinikmati oleh banyak orang.
Yang demikian adalah karena wanita yang menjaga auratnya lebih mulia dari pada wanita yang memamerkan auratnya.

Wahai saudariku,
Bahkan lelaki yang sholeh berlindung pada Allah dari godaan kita.
Wanita adalah godaan yang besar bagi lelaki.
Pada umumnya lelaki itu lemah terhadap godaan wanita.
Maka sebagai wanita, jangan malah kita menggodanya!
Tetapi kita bantu mereka untuk bisa menjaga pandangan dan menjauh dari maksiat.
Sukakah kita jika kita menjadi sebab pemuda-pemuda tergelincir dalam kemaksiatan?
Menjadi penyebar fitnah dan perusak generasi?

Saudariku yang aku cintai,
Berat hati ini melihat hal seperti ini terjadi pada saudari kita…
Allah telah memuliakan kita dengan mensyari’atkan jilbab untuk kita, namun kenapa malah menghinakan diri dengan membiarkan aurat terbuka? Secara tidak langsung, ini berarti membiarkan diri menjadi objek pemuas syahwat yang bisa dinikmati sembarang orang.

Allah telah memuliakan kita dengan mensyariatkan jilbab untuk kita, namun kenapa malah menghinakan diri dengan keluar dari ketaatan?

-bersambung insya Allah-

salam ukhuwah

BUAT RENUNGAN SEBAGAI PENUTUP MALAM....

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh...

Di Kala Akhwat Pasang Foto Asli Di Dunia Maya,,,Wahai Muslimah Renungkanlah

Dengan Nama Allah yang Maha Rahman Maha Rahiim

Semoga apa yang ana sampaikan nantinya tidak ternoda dengan hawa nafsu pribadi, tapi memberikan jawaban yang sesuai apa yang telah ana pahami selama ini, insya Allah......

Saudaraku fillah, Allah telah memerintahkan kepada wanita-wanita yang beriman, laki-laki yang beriman untuk menundukkan pandangan, dan menundukkan pandangan itu jika kita mau
memahaminya sungguh luas cakupannya, tidak hanya menahan pandangan kedua mata, tapi juga setiap anggota tubuh dari apa-apa yang menurut syari'at itu tidaklah layak untuk dinikmati...

Janganlah kita menjadi sebab orang lain berbuat dosa, tidakkah kita juga merasa berdosa telah membuat saudara kita yang lain berbuat dosa, karena kita?

Bukankah Allah telah memerintah bagi wanita-wanita yang beriman untuk menundukkan pandangan, begitu juga laki-laki yang beriman?

Dimanakah kalian hamba-hamba Allah yang beriman mengaplikasikan perintah Allah ini?

Allah menganuriakan kepada kita wajah yang cantik, tampan, tapi ada pula yang menurut kata manusia itu wajah yang buruk, jelek, padahal itu sesungguhnya sebaik-baik ciptaan yang telah Allah karuniakan kepada kita masing...

Lantas bukan berarti yang berwajah tampan, cantik kemudian takabur, merasa bangga, merasa dirinya layak untuk diketahui semua orang, sehingga ia mendapatkan sanjungan dan pujian, dan tidak sedikit karena kecerobohan sikapnya itu, iya kecerobohannya, ia telah membuat hamba Allah lainnya cemburu,bahkan berbuat dosa karena sikapnya itu...

Dan bukan berarti pula yang dikaruniai wajah yang kurang tampan,kurang cantik harus berkecil hati,sungguh tidak ada yang patut untuk disedihkan,karena Allah tidak melihat semua itu, Allah hanya melihat apa yang ada didalam hati...

Saudaraku fillah, bagaimana mungkin perintah Allah untuk menundukkan pandangan itu akan tercipta dengan baik, jika salah satu pihak dari kaum muslimin meremehkannya?

Tidak cukup dengan laki2 yang beriman yang menundukkan pandangannya sj akan tetapi wanita2 yang beriman malah mengumbar perhiasan mereka???

bagaimana mungkin seorang laki2 bisa menjaga kedua matanya dari memandang yang seharusnya tak ia pandangan sedangkan disamping kiri kanannya ada wanita2 yang tidak mau mengindahkan perintah Allah untuk menjaga perhiasan mereka?

siapakah yang bersalah misal terjadi yang demikian yaa ikhwah???

Nasihat saudaramu yang masih jahil ini kepada saudariku, sungguh, janganlah kalian menampakkan wajah kalian dihadapan laki2 yang bukan mahram kalian,jangan mengusik hati kami dengan indahnya wajah kalian,simpan baik2 wajah indah itu,itu karunia Allah tak seharusnya kalian tempatkan pada tempat yang tidak mulia, tidakkah kalian berpikir jika misal ada laki2 beriman menjadi kotor hatinya karena melihat foto antum,baik sengaja atau tidak sengaja?

kemudian hatinya gelisah, sungguh kami ingin menjaga kedua mata ini tapi wanita2 itu malah menampakkannya,

benar iman kami lemah yaa Allah,tapi apa kami yang salah sedangkan kami sudah mencoba pandangan kedua mata ini,tapi hambamu yang bernama wanita itu tidak mau melaksanakan perintahmu untuk menundukkan pandangan,tidak menjaga perhiasannya???a

pakah kalian wahai para wanita,siap dihadapkan pada pengadilan Allah atas aduan2 itu nantinya???apa yang akan kalian katakan pada Allah,saudariku?

Nasihat untuk saudaraku laki-laki yang beriman, janganlah kalian lemah akan tipu daya syaithan, sungguh wanita itu memang diciptkan akan menjadi fitnah yang sungguh dahsyat kerusakannya untukmu laki2 beriman jika kalian lengah dr pada menjaga hati dan kedua matamu...dikedua mata wanita itu terdapat binar2 iblis yang mana jika kalian melihatnya maka ia akan bisa menjadikan kalian layaknya iblis yang tunduk patuh pada hwa nafsu dan menjadi budak2nya syaithan...oleh karena itu,tidak usah kalian dekat2 dengan mereka jika memang tidak ada kepentingan yang mana dibenarkan oleh syar'i, cukuplah wanita yang akan menjadi istrimu kelak engkau berasyik masyuk dengannya...

Saudariku, niat baik itu tidak cukup untuk melakukan sebuah kebaikan,tapi hendaknya niat baik itu juga diikuti dengan cara yang baik pula untuk meraihnya. sungguh, tidak perlu,tidak penting kalian memasang foto kalian dimedia semacam fb ini,itu hanya akan menimbulkan fitnah,jangan hanya melihat maslahatnya sj,tapi tengoklah juga madharatnya nanti, jangan hanya menuruti keinginan pribadi,tapi ingini pulalah kami kaum laki2,kami ingin menjaga diri,kami ingin menundukkan pandangan,jangan kalian menjadi semacam penggoda mata2 kami ini.

Sejak awal,tidak hanya sekali,ana sudah menyerukan kepada wanita2 beriman yang memasang fotonya di fb,untuk segera diganti dengan gambar lain sj,alhamdulillah ada beberapa yang menerima pendapat ana,karena jika kita melakukan suatu kebaikan,hendaklah diliat maslahat dan madharat yang akan terjadi,tidak cukup dengan niat baik,tapi juga diiringi dengan niat yang benar pula.

apa tujuan kalian memperlihatkan foto wajah kalian?

bahkan tidak sedikit wanita yang bercadar yang melakukan ini,ana tanyakan kepada beliau2 ini,apa tujuan antum semua bercadar?
untuk menjaga wajah dari tatapan mata laki2?
kalau memang begitu,lalu kenapa setelah antum bercadar malah antum tampakkan didepan khalayak yang bisa semua orang diseluruh penjuru dunia ini melihat antum?

memandangi antum?

menatap,bahkan mencermati setiap lekuk dari wajah itu,atau mencetaknya dan dismpan dalam kamarnya?

apa kalian tidak merasa jijik?
tidak merasa risih?

yaa ikhwah, dakwah itu memang wajib,tidak ada larangan wanita berdakwah kepada laki2 dan sebaliknya,tapi jagalah batas2 yang ada,jangan melanggarnya,perhatikan adab2nya

bagaimanapun jug antum kelak hanya akan bersuamikan seorang laki2,tidak kasihankah antum jika foto2 antum itu tidak hanya menjadi milik laki2 yang akan menjadi suami antum kelak?

tapi juga menjadi foto yang mngkin sj setiap laki2 yang meliat foto antum mempunyai,menjadikannya teman tidur dikala malam,memandanginya???
Na'udzubillah
kalau begitu,apa antum tidak sebaiknya menyimpan foto2 pribadi antum saudariku???

berbicara sebagai identita, sungguh ini alasan yang tidak logis menurut kaca mata syari'at, kenapa? dengan memasang foto itu tidak menjamin orang lain tidak bisa menggunakan identitas kita untuk berbohong,jika itu alasannya, apa antum tidak berpikir foto antum itu bisa di save? dan kemudian di jadikan picture di account fb orang tsbt? ini alasan yang tidak mendasar, sungguh..yang ada hanya akan timbul fitnah,saudariku...

apakah antum hanya akan menyalahkan kaum laki2 yang berbuat demikian,misalnya?apakah antum tidak berpikir bagaimana bisa para2 laki2 itu bisa berbau demikian?karena apa dan siapa???tidakkan antum merasa punya andil bagi laki2 tersebut berbuat dosa?niat dan tujuan sj itu tidak cukup saudariki,wallahi tidak cukup...tapi hendaknya diiringi dengan cara yang benar....kalau antum meyakini kebenaran niat dan tujuan yang baik itu sudah cukup tanpa dibarengi dengan cara yang baik,maka akan timbul banyak kerusakan,lalu bagiamana dengan seorang pencuri yang mencuri dengan niat untuk disedekahkan?untuk menafkahi keluarganya?apa antum juga membenarkan tindakan yang semisal demikian?baik itu niatnya,untuk sedekat,memberi nafkah,tapi apa antum menafikan bagaimana orang itu merealisasikan niat baiknya itu????

Allahu a'lam

DIKALA SAKIT

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh...

Bissmillahirrahmanirrahim...

washalatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa’ala aalihi wa ashabihi waman tabi’ahum biihsan ila yaumiddin…. amma ba’du

Saudariku, semoga Allah merahmati kita semua...

Begitu banyak kenikmatan yang Allah karuniakan kepada kita. Kenikmatan yang tiada terhitung dan tak dapat pula diganti dengan emas permata. Salah satunya adalah nikmat sehat yang banyak kita lalaikan. Akan tetapi, bagaimana jika Allah menghendaki kesehatan itu lenyap dari kita sehingga kita menderita sakit? Apakah yang harus kita lakukan agar sakit yang kita alami dapat berubah menjadi ladang pahala dan penghapus dosa?

Orang yang sedang jatuh sakit berkewajiban untuk rela menerima ketetapan Allah, bersabar menghadapi takdir-Nya, dan berprasangka baik kepada-Nya. Semua itu akan lebih baik baginya.Hal itu sebagaimana pernah disinggung Rasullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,
عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله خير وليس ذاك لأحد إلا للمؤمن إن أصابته سراء شكر فكان خيرا له وإن أصابته ضراء صبر فكان خيرا له

“Sungguh mengagumkan urusan orang Mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik , dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali orang Mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, dan demikian itu lebih baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, dia akan bersabar, dan demikian itu lebih baik baginya.” (HR. Muslim, al Baihaqi dan Ahmad )

Orang yang sakit harus benar-benar berada dalam keadaan antara rasa takut dan berharap, takut kepada siksa Allah atas dosa-dosanya disertai dengan perasaan mengharapkan rahmat-Nya. Dasarnya adalah hadis Anas radhiyallahu ‘anhu:“Bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjenguk seorang pemuda saat menjelang kematiannya. Kemudian beliau bertanya : “Apa yang engkau rasakan?” Dia menjawab: Demi Allah, wahai Rasulullah, sesungguhnya aku benar-benar berharap kepada Allah dan sesungguhnya aku takut akan dosa-dosaku.” Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لا يجتمعان في قلب عبد في مثل هذا الموطن إلا أعطاه الله ما يرجو وآمنه مما يخاف

“Tidak akan bersatu dalam hati seorang hamba kedua hal tersebut dalam keadaan semacam ini (sakit), melainkan Allah akan merealisasikan harapannya dan memberikan rasa aman dari apa yang dia takuti.” (HR. Turmudzi dan yang lainnya dengan sanad hasan).

Separah apapun penyakit yang diderita seseorang, dia tidak diperbolehkan untuk mengharapkan kematian. Pernyataan ini berdasarkan hadis Ummu al-Fadhl (istri Abbas) radiyallahu ‘anha, bahwasannya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjenguk mereka, sementara ‘Abbas, paman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, tengah mengeluh (karena sakit) sampai mengharapkan kematian. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يا عباس يا عم رسول الله لا تتمن الموت ان كنت محسنا تزداد إحسانا إلى إحسانك خير لك وان كنت مسيأ فان تؤخر تستعتب خير لك فلا تتمن الموت

“Wahai pamanku, janganlah engkau mengharapkan kematian. Karena sesungguhnya, jika engkau seorang yang baik lalu diberi usia yang panjang, engkau bisa menambah kebaikanmu, dan itu lebih baik. Adapun jika engkau seorang yang banyak berbuat buruk lalu diberi tenggang usia, kemudian engkau berhenti dari perbuatan buruk tersebut dan bertobat, maka yang demikian itu lebih baik. Karena itu janganlah engkau mengharapkan kematian.” (HR. Ahmad)

Dalam riwayat yang lain, yang disebutkan oleh as-Syaikhan (Bukhari dan Muslim), al-Baihaqi (III/377) dan lainnya dari hadis Anas, dengan kalimat senada dengan hadis tersebut secara marfu’, di dalamnya disebutkan :

فَإِنْ كَانَ لا بُدَّ فاعلاً فليقُل : اللَّهُمَّ أَحْيني ما كَانَت الْحياةُ خَيراً لِي وتوفَّني إِذَا كَانَتِ الْوفاَةُ خَيْراً لِي

“Kalau dia terpaksa harus melakukan hal tersebut (mengharapkan kematian), hendaklah dia berdoa: ‘Ya Allah, hidupkanlah aku jika hidup ini lebih baik bagiku dan matikanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku.’” Hadis shahih, sebagaimana telah di-takhrij dalam kitab Irwaa-ul Ghalil (no. 683).

Jika orang yang sakit itu mempunyai beberapa kewajiban yang harus dibayarkan, hendaklah ia segera menunaikan kepada yang berhak, jika memang dia tidak merasa kesulitan untuk melakukannya. Jika tidak demikian, hendaklah dia berwasiat mengenai kewajibannya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam:
من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه

“Barangsiapa yang pernah mendzlimi saudaranya, baik terhadap kehormatan maupun hartanya, hendaklah dia meminta untuk dihalalkan sekarang, sebelum tiba hari Kiamat , ketika dinar dan dirham tidak lagi diterima. Jika dia memiliki amal shalih, maka amal itu akan diambil sesuai besar kedzalimannya dan diberikan kepada yang berhak. Jika dia tidak memiliki amal shaleh maka dosa-dosa orang yang didzalimi akan diambil dan dibebankan kepadanya.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ فَلَيْسَ ثَمَّ دِيْنَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ

“Siapa yang meninggal dunia sementara dia masih menaggung hutang maka (sadari) di sana (akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham, melainkan kebaikan dan keburukan.” (HR. Hakim, Abu Dawud, At-Thabarani, dan dishahihkan al-Albani)

Keharusan untuk segera merealisasikan wasiat bagi orang yang sakit. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam :

ما حق امرئ مسلم له شيء يريد أن يوصي فيه يبيت ليلتين إلا ووصيته مكتوبة عنده

“Tidaklah benar bagi seorang Muslim yang masih bertahan hidup dua malam, sementara dia mempunyai sesuatu yang hendak dia wasiatkan, melainkan wasiatnya sudah tertulis dekat kepalanya.” (HR. Muslim)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallammemerintakan untuk berobat dan berupaya mencari kesembuhan serta tidak berputus asa dari kesembuhan atas suatu penyakit.Dari Jabir bin ‘Abdillah, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasannya beliau bersabda :
لكل داء دواء فإذا أصيب دواء الداء برأ بإذن الله عز و جل

“Setiap penyakit itu pasti ada obatnya. Oleh karena itu, barang sipa yang tepat dalam melakukan pengobatan suatu penyakit, maka dengan izin Allah ‘azza wa jalla dia akan sembuh.” (HR. Muslim, Ibn Hiban, dan Hakim)

Dari abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita bahwa Rasulullah bersabda :

ما أنزل الله داء إلا أنزل له دواء

“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia turunkan obat untuknya.” (HR. Ibn Majah dan dishahihkan al-Albani)

Saudariku hayatilah hadis Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berikut, semoga menjadi penghibur bagi engkau yang sedang sakit.

Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah radiyallahu’anhuma, bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا

“Tidaklah seorang muslim ditertimpa kepayahan, penyakit, keguncangan, kedukaan, maupun kesulitan, bahkan sampai duri yang menusuknya, melainkan dengannya Allah akan menghapukan kesalahan-kesalahannya.” ( Mutatafaq’alaih)

Dari Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku pernah masuk ketempat Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau tengah menderita sakit panas, lalu aku bertanya: “Ya Rasulullah, sesungguhnya engkau benar-benar menderita sakit panas yang sangat tinggi.” Beliau menjawab:

“Benar, sesungguhnya aku menderita sakit panas seperti yang dirasakan oleh dua orang ( dilipatkan dua kali) diantara kalian.” Ibnu Mas’ud bertanya lagi: Itu berarti engkau mendapatkan dua pahala ? Beliau menjawab : “Benar, seperti itulah kiranya.

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مَرَضٌ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللَّهُ لَهُ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

“Tidaklah seorang muslim tertimpa oleh suatu yang tidak menyenangkan, sakit atau yang lainnya, melainkan Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya. Dan dosanya akan berguguran sebagaimana pohon menggugurkan daunnya.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يُرِد اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, maka akan ditimpakan cobaan padanya.” ( HR. Al-Bukhari )

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallamI bersabda:

إن عظم الجزاء مع عظم البلاء وإن الله إذا أحب قوما ابتلاهم فمن رضي فله الرضا ومن سخط فله السخط

“Sesungguhnya besarnya pahala tergtantung pada besarnya cobaan. Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala jika mencintai suatu kaum maka Dia akan memberikan cobaan kepada mereka. Barang siapa yang ridha maka dia akan memperoleh keridhaan-Nya dan barangsiapa yang murka maka dia akan memperoleh kemurkaan-Nya.” (HR. At-Tirmidzi, dia mengatakan; Hadis ini Hasan)

Demikian yang bisa kami haturkan, semoga Allah ta’ala memberi kesembuhan kepada saudari yang sedang sakit, memberikan kesabaran kepada mereka dan menghapuskan dosa-dosa mereka. Amiin….

Wabillahi taufiq walhamdulillahi rabbil ‘aalamiin

SEMOGA BERMANFAAT...
AAMIIN..

Selasa, 31 Januari 2012

Manfaat Menahan Marah

Ada manfaat yang sangat besar apabila kita dapat menahan marah. Tidak saja manfaat bagi fisik dan kesehatan, tetapi juga manfaat bagi rohani dan keagamaan yang bersifat islami.

Manfaat fisik dan kesehatan dari menahan marah dapat berupa terhindarnya kita dari hormon noradrenalin. Hormon noradrenalin adalah senyawa beracun yang bersama-sama hormon adrenalin (hormon yang timbul akibat kecemasan dan ketakutan yang teramat sangat) dapat memicu terjadinya penyempitan pembuluh darah dan bahkan dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah. Biasanya orang yang takut dan marah dadanya akan tersa sesak dan nafasnya tersengal-sengat. Itu semua merupakan akibat munculnya dua hormon tersebut.

Maka apabila kita berhasil menahan marah, berarti kita telah menjauhkan diri dari salah satu faktor penyebab penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah. Dan berarti juga kita telah mengeliminir salah satu sebab gagal jantung dan penyakit stroke.

Perlu diketahui juga bahwa bila gagal dalam menahan marah akan berakibat dan beresiko pada :

1. perbuatan atau tindakan yang tak terkontrol karena kehilangan kesadaran normal
2. dikucilkan atau dijauhi orang lain
3. menghilangkan keharmonisan hubungan sosial
4. mempengaruhi syaraf di otak
5. rusak dan hancurnya harta benda
6. membuka pintu bagi syetan untuk mempengaruhi tindakannya.

Dikarenakan manfaat yang sangat besar bila menahan marah dan resiko yang juga sangat besar bila mengikuti sifat marah atau mengumbar kemarahan maka kemudian Rasul memberikan dalil larangan marah :


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ

“Dari Abu Hurairah r.a. sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah saw. : (Ya Rasulallah) nasihatilah saya. Beliau bersabda : Jangan kamu marah. Seseorang itu menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda : Jangan engkau marah.” (HR. Bukhori )

Sedangkan manfaat menahan marah bagi rohani dan keagamaan dapat dilihat dari dijadikannya menahan marah sebagai indikator takwa seseorang dan dijamin masuk surga.

Tentang menahan marah sebagai indikator takwa, terungkap dalam Firman Allah QS. Ali Imron 133-134 sebagai berikut :

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ. الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imron : 133-134)

Sedangkan jaminan surga bagi yang mampu menahan marah termaktub dalam Hadits Rasulullah tentang larangan marah berikut ini :

عن ابي درداء قال قلت يا رسول الله دلّني علي عمل يدخلني الجنة قال لا تغضب ولك الجنة

“Ya Rasulallah, tunjukkan kepadaku suatu amal yang dapat memasukkanku ke surga. Rasul menjawab :”jangan marah, maka untukmu surga”.” (HR. Thabrani)

DALIL BAHWA DOA SEORANG MUSLIM DIKABULKAN

Allah Subhanahu waTa`ala berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu." (Al-Baqarah: 186).
Dan Allah 'Azza Wa Jalla berfirman,

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
"Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu." (Al-Mukmin: 60).
(1278) Kami meriwayatkan dalam kitab at-Tirmidzi dari Ubadah bin ash-Shamit radiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَا عَلَى وَجْهِ اْلأَرْضِ مُسْلِمٌ يَدْعُو اللهَ بِدَعْوَةٍ، إِلاَّ آتَاهُ اللهُ إِيَّاهَا، أَوْ صَرَفَ عَنْهُ مِنَ السُّوْءِ مِثْلَهَا، مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: إِذًا نُكْثِرُ؟ قَالَ: اللهُ أَكْثَرُ
"Tidaklah seorang Muslim di muka bumi ini yang berdoa kepada Allah dengan sebuah doa melainkan Allah pasti mengabulkan permintaannya, atau Dia menyingkirkan keburukan darinya (sebagai gantinya) dengan sebesar permintaannya (dari sisi kualitas dan kuantitas), selama dia tidak berdoa untuk suatu perbuatan dosa atau pemutusan silaturrahim'. Maka seorang laki-laki dari suatu kaum berkata, 'Kalau begitu kami akan memperbanyak (doa)'. Nabi menjawab, 'Allah (memiliki karunia) lebih banyak (daripada permintaanmu)'."
Hasan Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad 5/329; at-Tirmidzi, Kitab ad-Da'awat, Bab Fi Intizhar al-Faraj, 5/566, no. 3573; Abu Nu'aim dalam Hilyah al-Auliya`5/137; al-Baihaqi dalam asy-Syu'ab, no. 1131; al-Baghawi, no. 1387: dari jalur Muhammad bin Yusuf, Ibnu Tsauban menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Makhul, dari Jubair bin Nufair, dari Ubadah dengan hadits tersebut.
Abu Nu'aim berkata, "Zaid bin Waqid dan Hisyam bin al-Ghaz meriwayatkannya dari Makhul semisalnya". Saya berkata, "Ath-Thabrani meriwayatkan mutaba'ah ini dalam al-Mu'jam al-Ausath, no. 147, dan juga dalam ad-Du'a`, no. 86 dari jalur Maslamah bin Ali dari keduanya. Maslamah ini adalah seorang yang matruk (ditinggalkan) maka mutaba'ahnya tidak bernilai sedikit pun. Al-Baghawi mengatakan hadits tersebut, "Hadits hasan gharib". Saya berkata, "Disebabkan oleh Ibnu Tsauban maka di dalamnya terdapat pembicaraan, tapi ia tidak turun dari derajat hasan. At-Tirmidzi berkata, dan kemudian disepakati oleh an-Nawawi dan al-Albani, "Hadits hasan shahih". Saya berkata, "Hasan shahih dengan syahidnya berikutnya."
At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan shahih."
(1279) Dan diriwayatkan oleh al-Hakim Abu Abdillah dalam al-Mustadrak 'Ala ash-Shahihain dari riwayat Abu Sa'id al-Khudri, dan dia menambahkan di dalamnya,

أَوْ يَدَّخِرَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلَهَا.
"....atau Dia menyimpankan pahala semisal untuknya."
Shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, no. 29161; Ahmad 3/18; Abu Ya'la, no. 1019; al-Hakim 1/493; al-Baihaqi dalam asy-Syu'ab, no. 1128 dan 1130: dari beberapa jalur, dari Ali bin Ali ar-Rifa'i, dari Abu al-Mutawakkil an-Naji, dari Abu Sa'id al-Khudri dengan hadits tersebut.
Sanad ini hasan disebabkan oleh ar-Rifa'i, pada dirinya terdapat pembicaraan, tapi haditsnya tidak turun dari derajat hasan. Hadits tersebut telah dimutaba'ah, maka ath-Thabrani telah meriwayatkannya dalam al-Mu'jam ash-Shaghir, no. 1025: dari jalur Sa'id bin Basyir, dari Qatadah, dari Abu al-Mutawakkil. Dan Sa'id adalah seorang yang dhaif, apalagi haditsnya dari Qatadah. Al-Baihaqi meriwayatkannya dalam asy-Syu'ab, no. 1129: dari jalur Sulaiman at-Taimi, dari Abu ash-Shiddiq an-Naji, dari Abu Sa'id. Dan yang zahir bahwa dia tidak terjaga sebagaimana yang dikatakan oleh al-Baihaqi. Akan tetapi hadits tersebut shahih dengan terkumpulnya jalur-jalur ini. Al-Hakim dan al-Albani menshahihkannya. Al-Mundziri dan al-Haitsami menguatkannya.
(1280) Kami meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda,

يُسْتَجَابُ لأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ فَيَقُوْلَ: قَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي.
"Doa akan dikabulkan untuk salah seorang dari kalian selama tidak tergesa-gesa (minta dikabulkan). Di mana dia berkata, 'Saya telah berdoa, namun belum dikabulkan untukku'."
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Kitab ad-Da'awat, Bab Yustajabu li al-'Abdi Ma Lam Ya'jal, 11/140, no. 6340; dan Muslim, Kitab adz-Dzikr, Bab Yustajabu li ad-Da'i Ma Lam Ya'jal, 4/2095, no. 2735.